banner 728x90
Opini

Tikus Curut Jadi Biang Kerok, Awal Mula Bikin Lubang di Gedung Pesantren

×

Tikus Curut Jadi Biang Kerok, Awal Mula Bikin Lubang di Gedung Pesantren

Sebarkan artikel ini
Oleh: Muhammad Ibrohim Zidni./ Foto: Ai

BOLINGGODOTCO,- Konon, di sebuah pesantren kecil di Jawa Timur, tersimpan kisah unik yang bukan sekadar mengundang lelucon, tetapi juga menyimpan pelajaran. Bukan tentang santri yang terlambat mengaji atau kiai yang kehilangan sandal, melainkan tentang seorang kiai yang berburu tikus curut. Siapa sangka, perburuan itu justru menjadi awal dari konflik panjang yang berakhir di luar Nurul.

Alkisah, seorang pemudi dibawah umur dititipkan oleh bibinya ke sebuah pesantren setelah kehilangan kedua orang tuanya. Sang bibi berharap keponakannya bisa mendapatkan pendidikan agama yang baik sekaligus memiliki bekal untuk menjalani kehidupan di masa depan.

Selama tinggal di pesantren, pemudi tersebut mulai terbiasa dengan rutinitas mengaji, belajar, dan membantu kegiatan pondok. Beberapa bulan kemudian, ia semakin dekat dengan sang kiai yang membimbingnya. Kedekatan itu membuatnya merasa diterima seperti anak sendiri.

Merasa berutang budi, santri tersebut kemudian memutuskan untuk mengabdi sebagai khodim, yaitu orang yang membantu kebutuhan sehari-hari kiai dan keluarganya. Baginya, membantu sang kiai merupakan salah satu cara menunjukkan rasa hormat dan terima kasih.

Dalam tradisi pesantren, pengabdian semacam ini dikenal sebagai salah satu bentuk penghormatan dan pembelajaran tentang adab. Namun, seperti halnya kegiatan lain, pengabdian tetap perlu berjalan beriringan dengan tujuan utama seorang santri datang ke pesantren untuk menuntut ilmu.

Namun, pengabdian yang awalnya berjalan biasa itu perlahan membawanya pada kegiatan yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya.

Pesantren tempat mereka tinggal berada di sebuah desa kecil yang dikelilingi persawahan. Warga setempat bahkan punya istilah bercanda untuk menggambarkan lokasinya MEWAH, alias mepet sawah.

Suasananya memang tenang dan asri. Namun, kedekatan dengan persawahan juga menghadirkan persoalan tersendiri, yaitu tikus yang kerap berkeliaran di sekitar bangunan pesantren.

Di sekitar persawahan, tikus kerap dianggap sebagai hama yang mengganggu tanaman petani. Ketika habitatnya terusik atau sumber makanannya berkurang, tikus-tikus itu bisa berpindah tempat untuk mencari perlindungan dan makanan.

Entah bagaimana awalnya, sejumlah tikus curut mulai menjadikan bangunan pesantren sebagai tempat singgah. Awalnya mungkin hanya satu atau dua ekor. Lama-lama, lubang-lubang kecil bermunculan di beberapa sudut bangunan.

Sang kiai mulai curiga. Dinding berlubang, barang-barang berantakan, dan suara-suara mencurigakan terkadang terdengar saat malam tiba. Setelah diperiksa, rupanya ada penghuni tak diundang yang ikut menikmati fasilitas pondok tanpa pernah membayar uang sewa.

Perburuan Tikus Tengah Malam Dimulai 

Karena merasa terganggu, sang kiai mencoba memburu tikus curut sendirian. Ia memeriksa sejumlah sudut bangunan dan mencari tempat persembunyian hewan tersebut. Sayangnya, usaha itu tidak memberikan hasil yang memuaskan.

Merasa kewalahan, sang kiai akhirnya mengajak santri yang umurnya masih dibilang belum cukup untuk membantu mencari tikus pada tengah malam, ketika para santri lain sudah terlelap.

Mereka menyusuri sudut bangunan, memeriksa lubang-lubang kecil, dan berusaha menemukan jejak tikus curut. Pemandangan yang biasanya hanya terlihat dalam cerita petualangan kini terjadi di sebuah pesantren.

Bedanya, musuh mereka bukan penjahat atau makhluk misterius, melainkan tikus kecil yang larinya lebih cepat daripada kemampuan manusia untuk menangkapnya.

Setelah cukup lama mencari, sang kiai mengajak santrinya beristirahat di sebuah gudang dekat bangunan pondok yang baru direnovasi dan pintupun dikunci rapat agar tidak ada tikus curut yang mengganggu waktu istirahatnya.

“Sudah nak, istirahat dulu. Berburu tikus itu ternyata tidak semudah melepas pakaian dan sarung,” begitu kira-kira candaan sang kiai dalam kisah yang dikarang oleh si-penulis ini.

Kejadian itu bukan hanya berlangsung sekali. Dalam seminggu, mereka bisa melakukan perburuan dua hingga tiga kali. Bagi sang kiai, itu merupakan perburuan yang menyenangkan. Bagi sang santri, kegiatan tersebut menjadi bagian dari rutinitas malam yang tidak pernah dilakukan sebelumnya.

Melihat santrinya berulang kali membantu, sang kiai merasa tidak enak jika terus meminta bantuan tanpa memberikan sesuatu sebagai tanda terima kasih. Ia pun memberikan uang Rp100 ribu kepada santri tersebut.

Persoalan mulai muncul ketika Idulfitri tiba dan sang santri pulang untuk bersilaturahmi dengan bibinya. Sang bibi tentu ingin mengetahui perkembangan keponakannya selama belajar di pesantren.

Ketika ditanya mengenai kegiatan sehari-hari, santri itu bercerita tentang kedekatannya dengan sang kiai. Ia juga mengungkapkan bahwa dirinya kerap membantu berburu tikus curut pada malam hari, bahkan menerima uang Rp100 ribu.

Mendengar cerita tersebut, sang bibi merasa khawatir. Menurutnya, keponakannya dikirim ke pesantren untuk menuntut ilmu agama, bukan menghabiskan banyak waktu mencari tikus curut.

Sang bibi akhirnya menemui sang kiai untuk membicarakan persoalan tersebut. Dalam percakapan yang menjadi inti konflik cerita ini, ia merasa keponakannya pantas menerima Rp500 ribu atas bantuan yang telah diberikan.

Sang kiai, yang tidak ingin masalah berlarut-larut, meminta maaf dan menyatakan kesediaannya memberikan uang sebesar itu agar persoalan bisa diselesaikan secara kekeluargaan.

Namun, kesepakatan tersebut kembali berubah. Sang bibi kemudian meminta Rp100 juta. Tak berhenti sampai di situ, ia bahkan mengancam akan menyebarkan cerita tersebut kepada warga sekitar apabila tidak diberikan uang Rp100 juta.

Perselisihan yang Semakin Panjang

Sang kiai merasa keberatan karena tidak mampu memenuhi permintaan tersebut, karena uang 100 juta sulit didapatkan apalagi undangan ceramah tengah sepi. Perselisihan yang awalnya berkaitan dengan tikus curut pun berkembang menjadi konflik yang lebih besar.

Lalu kemudian sang bibi mengundang temannya para pegiat Facebook Pro untuk memviralkan berita ini. Tak selang lama foto sang kiai beredar luas, sehingga persoalan yang semula bersifat pribadi berubah menjadi bahan cibiran banyak orang.

Setelah kisah itu ramai di Facebook, sejumlah warganet mulai berinteraksi di kolom komentar membahas tikus curut. Unggahan itu mengundang beragam tanggapan, komentar, dan perhatian dari pengguna media sosial lainnya.

Melihat respons yang semakin ramai, lalu sang bibi kemudian mengajak sejumlah pegiat TikTok untuk turut mengangkat isu tersebut. Penyebarannya pun meluas ke platform lain, membuat kisah yang bermula dari persoalan di lingkungan pesantren itu semakin dikenal publik.

Santri Berhenti Mondok

Karena tak tahan menahan malu, pada akhirnya, sang santri tidak kembali ke pesantren. Hubungan yang sebelumnya dekat dengan sang kiai pun berakhir akibat persoalan yang bermula dari perburuan tikus curut.

Namun, sayangnya, kisah dramatis ini hanyalah cerita fiktif hasil imajinasi seorang penulis yang sedang gabut. Jadi, jangan sampai ikut terbawa suasana atau sibuk mencari sosok yang dimaksud. Sebab, di balik kisah tikus curut penulisnya cuma lagi rebahan dan bertanya ke diri sendiri “Kok Bisa cari Tikus Curut?.***

*) Penulis: Muhammad Ibrohim Zidni adalah Alumni UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dan Jurnalis di wilayah Probolinggo Raya.

*) Tulisan Opini ini sepenuhnya tanggungjawab penulis dan tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi bolinggo.co