banner 728x90
Opini

Tengger Bukan Sekadar Pemandangan, Ia Adalah Rumah

×

Tengger Bukan Sekadar Pemandangan, Ia Adalah Rumah

Sebarkan artikel ini
Penulis: Muhammad Taofik./ Foto: Pribadi

BOLINGGODOTCO,- Ketika kita mendengar nama Bromo, gambaran dalam kepala kita mungkin pemandangan yang indah, lautan pasir, kawah, sunrise maupun sunset-nya.

Bromo begitu mudah kita temukan di media sosial. Ada orang datang untuk memotret lalu pulang membawa cerita tentang keindahan.

Namun, di balik panorama yang kita kagumi, ada Tengger yang jauh lebih kompleks. Ada masyarakat yang hidup, bertani, menjalankan tradisi, dan menjaga hubungan dengan alam.

Bagi mereka, Tengger bukan tempat untuk sekadar dikunjungi. Tengger adalah rumah.

Kegelisahan itu kembali muncul ketika saya berkesempatan ikut diskusi bersama kawan-kawan Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Surabaya di Wisma Jerman, Surabaya. Minggu, 16 Agustus 2026.

Saya mengikuti Diskusi 3 bertajuk “Masa Depan Tengger: Pariwisata Massal dan Kerusakan Lingkungan”. Diskusi tersebut merupakan bagian dari rangkaian “Dari Tengger untuk Dunia” yang berlangsung dari 15-16 Agustus 2026.

Dari forum itu, saya berpikir ulang tentang Tengger. Tengger tidak hanya soal keindahan alam. Ada aspek ekologis yang seringkali tidak kita diketahui. Selama ini, Tengger hadir dalam ingatan kita sebagai tempat kunjungan semata.

Ribuan orang datang berkunjungan dengan mengabadikan momen lewat potretnya. Secara tidak langsung Tengger hanya dijadikan lanskap yang diciptakan untuk dilihat.

Padahal, dibalik itu semua ada ruang hidup masyarakat yang memiliki sejarah, tradisi, pertanian, dan hubungan erat dengan alam. Bagi masyarakat Tengger, kawasan tersebut bukan hanya tempat foto tetapi rumah yang menopang kehidupan masyarakat.

Hal ini sejalan dengan perhatian Yuliati Umrah, direktur eksekutif ALIT Indonesia, terhadap masyarakat Tengger. Dalam sebuah kegiatan kebudayaan, ia menyebut karya tentang Tengger sebagai bagian dari upaya melestarikan budaya dan kekayaan masyarakat Bromo.

Pandangan itu mengingatkan bahwa Tengger tidak cukup hanya dipotret, tetapi perlu dipahami dan dijaga.

Disinilah persoalan ekologis harus kita perhatikan. Keindahan alam seringkali menjadi faktor upaya peningkatan pariwisata. Namun, semakin banyak orang yang datang, besar pula resiko tekanan terhadap lingkungan.

Sampah berceceran, alur lalu lintas, penggunaan lahan, sampai perubahan pengelolaan kawasan menjadi persoalan yang tidak bisa dipungkiri dibalik indahnya foto Bromo.

Pariwisata memang memberi manfaat bagi perekonomian masyarakat. Oleh karena itu, bukan berarti menolak wisatawan. Pertanyaannya bagaimana pengelolaan pariwisata tidak sampai mengorbankan kondisi lingkungan agar tidak semakin memburuk.

Sadarkah kita bahwa Bromo oleh pemerintah digaungkan sebagai destinasi unggulan. Tetapi tidak banyak yang bertanya daya dukung alamnya.

Pertanyaan ini kompleks apabila dikaitkan dengan masyarakat lokal yang sekedar dianggap objek. Tradisi, pakaian, ritual, upacara, hanya sekedar menjadi tontonan. Seharusnya masyarakat dijadikan subjek yang memiliki hak menentukan masa depannya.

Selain itu, kita juga perlu banyak belajar dari mereka tentang menjaga alam tanpa harus merusak. Bagaimana cara menjaga air, udara, kebudayaan dan kehidupan masyarakat yang mereka rawat dari warisan leluhur kita.

Saya datang ke diskusi tersebut sebagai peserta. Tetapi saya pulang membawa pertanyaan yang lebih besar. Selama ini, apakah kita benar-benar mengenal Tengger, atau hanya mengenal pemandangannya?

Barangkali sudah waktunya kita berhenti melihat Tengger hanya dari balik kamera. Kita perlu melihat siapa yang hidup di sana, bagaimana alam menopang kehidupan mereka, dan apa yang terjadi ketika pariwisata tumbuh tanpa cukup memikirkan batas.

Tengger bukan sekadar pemandangan. Ia adalah rumah, ekosistem, kebudayaan, dan ruang hidup. Karena itu, menjaga Tengger bukan berarti menghentikan pariwisata.

Menjaga Tengger berarti memastikan bahwa keindahan yang kita nikmati hari ini tidak menjadi alasan mengapa generasi berikutnya hanya mengenalnya dari foto.***

*) Penulis: Muhammad Taofik adalah Mahasiswa Sejarah di UIN Kiai Haji Achmad Siddiq (Khas) Jember.

*) Tulisan ini sepenuhnya tanggungjawab penulis dan tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi bolinggo.co.