BOLINGGODOTCO,- “Hai antek-antek asing”, mungkin akan cocok untuk para khatib shalat Id. Pasalnya kita tidak hanya merayakan hari raya, tapi harus membangun kembali pondasi moral yang runtuh karena mantera kapitalisme. Iya, saya tidak bercanda akan hal itu!.
Hari raya Idul Adha 1447 H diadakan dengan fenomena sosial yang tidak biasa, seperti ketimpangan ekonomi, konflik politik, lemahnya penegakan hukum dan kerusakan lingkungan. Hari yang istimewa harus disambut dengan beberapa fenomena sosial yang tidak cukup baik.
Saya pernah mendengar ceramah tentang Idul Adha yang kurang lebih isi-nya begini: Ibrahim tidak memposisikan dirinya sebagai ayah pada waktu penyembelihan Ismail. Akan tetapi, sebagai makhluk tuhan yang harus siap diambil kapan saja olehnya dan memotong kurban adalah suatu bentuk abstrak yang kemudian kita kenal sosialis.
Sementara ceramah yang sering terdengar adalah, puasa di hari Arafah sama dengan puasa 1000 hari atau bla..bla..blanya yang lain. Cukup sampai situ, terkesan agama tidak bisa mengukur tangannya pada fenomena sosial, pada bunyi ketakutan yang datang dari perut.
Padahal bisa saja agama mencapai akan hal tersebut. Hal yang sulit dibayangkan dan disambungkan oleh para penjilat kekuasaan, atau para orang yang taklut tak berdaya pada penguasa, yang kita pikirkan dari kemarin-kemarinnya tak lebih seperti ini, “semoga ada bantuan sosial di hari raya”. Seolah mereka adalah tuhan yang menyelamatkan dari penderitaan hari raya.
Akibatnya kita selalu menahan diri dengan sikap ke-takhayul-an yang hadir dengan varian baru yaitu, pegang uang di hari raya. Meskipun dari gaji UMR atau dibawahnya, yang penting pegang uang dulu dan entah bagaimana nasibnya bangsa ini di kemudian hari.
Kita tetap saja memaklumi anak-anak kita yang membawa pulang MBG lalu dibuangnya. Budaya salam-salaman yang sudah terkesan formalitas setiap raya. Keesokannya kita akan berkelahi dengan mereka, padahal sesama proletarik yang sama-sama garap sawah orang.
Pemerintah, entah siapa mereka, sepertinya tidak ada kaitannya dengan hari raya. Meskipun sesuap nasi yang tiap harinya adalah hasil kebijakannya.
Dan seringkali kita marah dengan slogan, “agama adalah candu”, artian kita masih punya moral di bawah standar sosial ekonomi yang tak ada pasangnya. Kita belum bisa menerima, agama dan moral kita dijadikan keset oleh pengusaha serta penguasa.
Dalam bukunya Mochtar Lubis, ciri manusia Indonesia selain yang utama, yaitu percaya bahwa modernisasi adalah menjadi bagian pengikut negara yang kaya. Negara seperti kita adalah sosok asli primitif yang tak paham modernisasi. Padahal ukuran itu diambil dari sampel yang cenderung meng-kapitalisasi semua sumber daya.
Entah berapa banyak hutan yang dibuat gundul, atau berapa banyak koruptor yang menjadi tahanan rumah atau dibebaskan, atau berapa banyak kepentingan politik balas budi di kursi dewan atau kabinet.
Coba kita saja sedikit buka, perjuangan sosial Rasul yang berjalan ribuan kilometer demi kemaslahatan umatnya, Ibrahim dan anaknya yang membedah makna kepedulian, Musa yang berani menentang penguasa otoriter di masanya, hingga Segundo yang berani membedah doktrin, yang ternyata akal-akalan pemuka agama mereka.
Mereka menjadikan agama dan moralitas sebagai alat perjuangan. Dan marilah hari raya besok jadikan momentum untuk mencari TUHAN BARU, tuhan yang tidak duduk tenang di kursi kabinet ketika kita kelaparan.***
*) Penulis: Muhammad Sofyan Hadi, Mahasiswa Fakultas Syariah, UIN Kiai Haji Achmad Siddiq (Khas) Jember.
*) Tulisan Opini ini sepenuhnya tanggungjawab penulis dan tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi bolinggo.co.











