PROBOLINGGO,- Sini saya jelasin. banyak orang luar daerah masih suka salah paham soal Probolinggo. Dikiranya bagian dari Madura. Padahal jelas-jelas Probolinggo itu ada di Tapal Kuda, masih satu daratan Pulau Jawa. Jadi ya… beda pulau, bosku..
Masalahnya, logat warga Probolinggo memang “menjebak”. Sekilas kedengeran kayak orang Madura. Apalagi kalau lagi ngobrol santai, makin kental. Tapi jangan langsung nge-judge. Itu bukan berarti orang Probolinggo asli Madura, melainkan hasil campuran budaya yang sudah lama “diaduk-aduk”.
Wilayah Tapal Kuda memang terkenal sebagai zona “mix and match”. Budaya Jawa ketemu Madura, terus akrab, lalu lahirlah yang namanya Pendalungan. Jadi kalau bingung, ya wajar. Bahkan yang tinggal di Probolinggo saja kadang bisa campur tiga bahasa dalam satu kalimat tanpa sadar.
Belum lagi urusan nama. Probolinggo sering disangka Purbalingga oleh orang luar Jawa Timur. Padahal beda jauh, bukan cuma hurufnya. Ini kayak mangga sama manggis, mirip bunyi tapi jelas beda rasa. Salah sebut dikit, siap-siap dikoreksi panjang lebar sama orang Probolinggo.
Contoh lain, soal Gunung Bromo. Banyak yang bilang, “bukannya Bromo itu milik Malang ya?” Eits, tunggu dulu. Bromo itu bukan milik malang, tapi milik Kabupaten Probolinggo, tapi wisatawan kebanyakan lewat jalur Malang ketimbang Probolinggo. Jadi jangan Malang terus yang disebut yaa..
Soal bahasa, ini yang paling unik. Warga Probolinggo pakai gaya bahasa Pendalungan. Campur-campur tapi enak didengar seperti kalimat “makanya ojok ler-meller tok ae” artinya: makanya jangan nakal-nakal terus, atau “ojok guyuan tok rapah” artinya: jangan bercanda terus yaa, bahasa itu udah jadi makanan sehari-hari bagi warga Probolinggo.
Budayanya juga nggak kalah rame. Ada Jaran Bodhag, Karapan Sapi Brujul, Karapan Kambing sampai Tari Glipang. Tradisi kayak Kembang Lamaran dan Ketan Kratok juga masih eksis. Intinya, kalau soal budaya, Probolinggo nggak kehabisan bahan cerita.
Belum lagi keberadaan Suku di Probolinggo yaitu Suku Tengger di kawasan Gunung Bromo. Mereka masih memegang tradisi leluhur seperti kisah Rara Anteng dan Joko Seger. Jadi suasana di sini bukan cuma indah, tapi juga kental nilai budaya.
Sebagai daerah, Probolinggo juga punya julukan keren. Kota Mangga, Kota Anggur, sampai Bumi Banger. Letaknya strategis, jadi sering jadi jalur transit. Mau ke mana-mana, seringnya ya lewat Probolinggo dulu.
Pengaruh Madura di Probolinggo memang kuat, itu fakta. Tapi itu karena sejarah panjang migrasi orang Madura ke wilayah Tapal Kuda sejak zaman kolonial. Jadi yang terbentuk bukan “Madura versi lain”, tapi identitas baru yang khas.
Akhirnya, Probolinggo itu ibarat es campur. Isinya macam-macam, tapi justru itu yang bikin nikmat. Bukan Madura, bukan juga Jawa murni. Tapi perpaduan yang unik, yang kadang bikin orang luar salah paham… dan orang Probolinggo cuma bisa senyum sambil bilang, “Sini tak jelasin pelan-pelan”.***
*)Penulis: Ibrohim Zidni adalah alumni UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Prodi Komunikasi Penyiaran Islam (KPI).
Ia juga merupan Jurnalis di media online SerikatNews.com













