banner 728x90
Berita

Bukan Sekadar Bahan Mentah, IPDA Ajak Pemuda Ubah Pangan Lokal Jadi Peluang Usaha

×

Bukan Sekadar Bahan Mentah, IPDA Ajak Pemuda Ubah Pangan Lokal Jadi Peluang Usaha

Sebarkan artikel ini
Ikatan Pemuda Penggerak Desa Indonesia (IPDA) mendorong pengembangan pangan lokal menjadi produk bernilai tambah./ Foto: bolinggo.co

SEMARANG,- Ikatan Pemuda Penggerak Desa Indonesia (IPDA) mendorong pengembangan pangan lokal menjadi produk bernilai tambah. Upaya ini dilakukan melalui program Lumbung Karya Indonesia yang melibatkan generasi muda dan pelaku usaha pangan.

Dorongan tersebut disampaikan dalam Final Showcase Lumbung Karya Indonesia bertema “Inovasi Karya Pangan Lokal” di Gedung Gradhika Bhakti Praja, Semarang, Kamis (1/10/2026).

Kegiatan ini merupakan kolaborasi IPDA, STAPA, dan Impala. Sebanyak 250 pelaku ekonomi pangan lokal mengikuti rangkaian program hingga terpilih 25 finalis dan lima pemenang dari lima kategori.

Program tersebut menjadi wadah pengembangan potensi pangan desa. Peserta didorong menciptakan inovasi yang dapat dikembangkan menjadi produk dan peluang usaha.

Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, mengatakan potensi bahan lokal perlu diolah agar memiliki nilai ekonomi lebih tinggi. Setiap daerah juga didorong mengembangkan produk unggulan berbasis potensi masing-masing.

“Bahan lokal ini tidak hanya sekadar dibuat menjadi produk, tetapi harus mempunyai nilai tambah,” ujar Luthfi.

Ia menambahkan, pengembangan UMKM membutuhkan dukungan pemerintah. Mulai dari pembinaan, permodalan, pengemasan, hingga pemasaran produk.

Sementara itu, Staf Ahli Menteri Koordinator Bidang Pangan, Dr. Ir. Sugeng Santoso, M.T., QRGP., CGRE, menilai pangan lokal memiliki peluang besar dalam mendorong ekonomi daerah.

Menurutnya, pengembangan sektor pangan membutuhkan kolaborasi berbagai pihak. Pemerintah, pelaku usaha, UMKM, lembaga pendidikan, teknologi, dan pasar perlu saling terhubung.

Ia juga menyoroti pentingnya akses pasar bagi produk lokal. Salah satunya melalui pemanfaatan belanja pemerintah untuk membantu penyerapan produk daerah.

Wakil Sekretaris Jenderal IPDA, Muhammad Sakur, M.Sc., mengatakan desa perlu didorong agar tidak hanya menghasilkan bahan mentah.

“Yang perlu kita dorong bukan hanya bagaimana desa menghasilkan pangan, tetapi bagaimana pangan itu memiliki nilai tambah. Dari bahan baku menjadi produk, dari produk menjadi usaha, dan dari usaha menjadi bagian dari rantai ekonomi daerah,” ujarnya.

Menurut Sakur, hilirisasi perlu disertai diversifikasi produk. Potensi pangan desa harus dikembangkan menjadi berbagai produk sesuai kebutuhan pasar.

Ia juga menilai pemuda memiliki peran penting dalam proses tersebut. Generasi muda dapat terlibat melalui pemanfaatan teknologi, pengembangan merek, hingga perluasan pemasaran.

“Di sinilah peran pemuda menjadi penting. Anak muda tidak hanya dibutuhkan untuk memproduksi gagasan, tetapi juga untuk membawa teknologi, membaca pasar, membangun merek, dan menghubungkan potensi lokal dengan konsumen,” katanya.

Ketua Umum IPDA, Arifin Kusuma Wardhani, menegaskan bahwa desa memiliki banyak potensi ekonomi yang perlu dikembangkan.

Menurutnya, pemuda harus terlibat dalam menghubungkan potensi tersebut dengan inovasi dan jaringan usaha.

“Desa jangan hanya menjadi tempat produksi bahan mentah. Desa harus menjadi tempat lahirnya karya, produk, dan usaha. Pemuda harus mengambil bagian dalam proses itu,” ujar Arifin.

Melalui Lumbung Karya Indonesia, IPDA bersama STAPA dan Impala berupaya mempertemukan pelaku pangan lokal dengan pemerintah, komunitas, serta jejaring usaha.

Program ini diharapkan membuka peluang pengembangan produk sekaligus memperluas akses pasar bagi UMKM.

Rangkaian kegiatan ditutup dengan penetapan lima pemenang dari lima kategori. Mereka merupakan bagian dari 25 finalis yang berhasil melewati tahapan seleksi dan pengembangan.

IPDA berharap program tersebut dapat mendorong lahirnya usaha berbasis pangan lokal yang berkelanjutan. Dengan begitu, desa tidak hanya menjadi pemasok bahan baku, tetapi juga mampu menghasilkan produk dengan nilai ekonomi lebih tinggi.***