BOLINGGODOTCO,- Di era yang serba praktis seperti sekarang, sabun batang perlahan mulai ditinggalkan. Banyak orang beralih ke sabun cair karena dinilai lebih efisien saat bepergian. Tidak perlu repot menyimpan kembali setelah dipakai, tidak membuat tas basah, dan jelas lebih praktis untuk mobilitas tinggi.
Namun, di tengah kebiasaan baru itu, sabun batang justru kembali jadi bahan perbincangan di kota Banger. Bukan karena inovasi atau tren kebersihan, melainkan karena sebuah cerita diluar nurul yang berkembang dari tongkrongan warung kopi ke tongkrongan lain. Awalnya hanya gosip bisik-bisik, tapi lama-lama menjadi rasa penasaran kolektif.
Secara logika, sabun batang memang kurang cocok dibawa bepergian jauh, misalnya dari Probolinggo ke Surabaya. Setelah dipakai di penginapan, sabun akan basah dan berbusa jika dimasukkan ke dalam tas. Karena itu, banyak orang memilih untuk langsung membuangnya setelah digunakan daripada harus repot membawanya pulang.
Di sinilah cerita mulai menarik. Seorang warga yang disebut sebagai Pipit (nama samaran), dari Kota Pellem, justru melakukan hal di luar nurul. Ia membeli sabun batang di sebuah toko kelontong di Kota Tape dengan harga fantastis, sekitar Rp2,5 juta. Jaraknya pun tidak dekat, kurang lebih dua jam perjalanan dari rumahnya.
Keputusan ini sontak memancing pertanyaan warga sekitar. “Mengapa harus membeli sejauh itu, padahal di dekat rumahnya sendiri juga tersedia sabun batang?” Bahkan penulis opini ini ikut bertanya-tanya, apakah ada rekomendasi khusus atau alasan tertentu di balik pilihan tersebut, apalagi sabun itu hanya akan dipakai sekali saat menginap di Surabaya.
Rasa penasaran ini semakin meluas hingga menjadi bahan obrolan serius atau pacapa gobes di tongkrongan. Cerita yang awalnya sederhana berubah menjadi spekulasi yang beragam. Setiap orang mencoba menebak-nebak, meski tidak ada yang benar-benar mengetahui kebenarannya.
Melihat situasi yang mulai ramai di masyarakat, Pipit diduga mencoba meredam isu agar tidak semakin viral. Ia memilih mentraktir makan para penggiat FB Pro yang cukup berpengaruh di kotanya. Langkah ini mungkin dianggap sebagai cara untuk “menenangkan” perbincangan di lingkaran tertentu.
Namun, rencana tersebut ternyata tidak berjalan mulus. Ada satu hal yang terlewat: penggiat TikTok lupa tidak diajak. Hal ini memicu rasa tidak diakui dari sebagian pihak. Dari situlah cerita sabun batang kembali mencuat, bahkan dengan kekuatan yang lebih besar. Penggiat TikTok itu pun mulai menyuarakan hal ini secara konsisten, apalagi ada salah satu konten yang diduga memframing.
Akhirnya, cerita tentang sabun batang ini benar-benar viral. Bukan hanya soal sabun dengan harga fantastis, tetapi juga tentang dinamika sosial yang menyertainya. Isu kecil berubah menjadi besar karena menyentuh rasa keadilan dan perhatian publik.
Kini, sabun batang tersebut masih menjadi bahan perbincangan. Bahkan sebagian orang mengaku sudah mengetahui bentuknya, dan gambarnya tersimpan rapi di galeri ponsel mereka. Hal ini semakin menambah rasa penasaran, seolah sabun tersebut memiliki “nilai lebih” di luar fungsinya.
Pertanyaan pun muncul: apakah sabun batang ini hanya akan menjadi cerita sesaat, atau justru akan muncul kembali di masa depan, misalnya di tahun 2029 seperti yang mulai diperbincangkan? Tidak ada yang tahu pasti.
Yang jelas, cerita ini menunjukkan bahwa di era digital, hal kecil bisa menjadi besar dengan cepat. Bukan karena bendanya, tetapi karena cerita di baliknya. Dan dalam kasus ini, sabun batang hanyalah awal dari sebuah kisah yang terus hidup di tengah masyarakat.
Namun sayangnya, cerita tentang si Pipit dan sabun batang ini hanyalah kisah fiktif yang dibuat-buat oleh sang penulis. Rasa gabut yang menghantui pikirannya menggerakkan jari-jarinya untuk mengetik di ponsel pintarnya, sambil bergumam dalam hati, “Kok bisa ya?” Sambil menghisap rokok HS Mango Ice, menambah suasana absurd dari cerita yang ia rangkai.***
*) Penulis: Ibrohim Zidni adalah alumni UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Prodi Komunikasi Penyiaran Islam (KPI).
*) Ia juga merupan Jurnalis di media online SerikatNews.com
*) Tulisan Opini ini sepenuhnya tanggungjawab penulis dan tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi bolinggo.co.











