banner 728x90
Berita

MUI Ajak Negara Islam Tinggalkan Konflik, Perkuat Sains dan Ekonomi

×

MUI Ajak Negara Islam Tinggalkan Konflik, Perkuat Sains dan Ekonomi

Sebarkan artikel ini
Wakil Ketua Umum MUI, KH M Cholil Nafis./ Foto: Istimewa

JAKARTA,- Majelis Ulama Indonesia (MUI) mendorong negara-negara Islam di dunia untuk mengubah arah perjuangan. Umat Islam diminta lebih fokus membangun peradaban, menguasai teknologi, dan memperkuat ekonomi.

Wakil Ketua Umum MUI, KH M Cholil Nafis, menilai potensi besar dunia Islam belum dimanfaatkan secara maksimal. Salah satu penyebabnya adalah konflik internal dan perpecahan yang masih menguras energi umat.

Pernyataan tersebut disampaikan saat kunjungan internasional MUI melalui program Pengembangan Wawasan Dakwah Internasional (PWDI-MUI) di Mesir dan Arab Saudi.

Dalam kunjungan ke Madinah, Arab Saudi, delegasi MUI bertemu dengan Rektor Universitas Islam Madinah, Dr Saleh bin Ali Al-Aqla, beserta jajaran dekan fakultas. Pertemuan itu membahas konsep dakwah Islam Wasathiyah atau Islam moderat yang dikembangkan di Indonesia.

Dikutip dari akun Instagram pribadinya @cholilnafis, Kamis (5/11/2026), Kiai Cholil menyebut dunia Islam membutuhkan kerja sama nyata untuk mengejar ketertinggalan di bidang ilmu pengetahuan dan ekonomi.

Menurutnya, kebangkitan peradaban Islam sulit terwujud apabila umat masih terjebak dalam konflik sektarian dan peperangan. Karena itu, persatuan harus menjadi landasan untuk membangun kemajuan bersama.

“MUI mendorong negara-negara Islam untuk menyatukan upaya dalam mengembangkan pendidikan, penelitian ilmiah, teknologi, dan ekonomi, serta memperkuat peran Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) dalam mewujudkan rekonsiliasi dan solidaritas,” tegasnya.

Ia juga menilai stabilitas geopolitik menjadi faktor penting dalam pemulihan peradaban Islam. Konflik bersenjata antarnegara Islam harus segera dihentikan agar keamanan kawasan tetap terjaga.

Kiai Cholil turut mengecam berbagai bentuk agresi yang mengancam stabilitas kawasan, termasuk serangan kelompok Houthi terhadap Kerajaan Arab Saudi.

Pengasuh Pondok Pesantren Cendekia Amanah, Depok, Jawa Barat, itu menegaskan bahwa kedaulatan dan keutuhan wilayah setiap negara harus dihormati. Perselisihan politik maupun perbedaan pandangan, menurutnya, perlu diselesaikan melalui diplomasi dan dialog.

Selain itu, ia mengajak seluruh elemen dunia Islam memperkuat ukhuwah Islamiyah. Perbedaan mazhab seharusnya tidak menjadi alasan untuk saling bermusuhan.

Kiai Cholil mengingatkan bahwa provokasi sektarian hanya akan memicu perpecahan dan merugikan umat. Sebaliknya, solidaritas dan kolaborasi menjadi kunci untuk membangun kembali kejayaan peradaban Islam serta berkontribusi terhadap perdamaian dunia.***