banner 728x90
Daerah

Wali Kota Optimistis Pisang Cavendish Jadi Sumber Ekonomi Baru Warga Probolinggo

×

Wali Kota Optimistis Pisang Cavendish Jadi Sumber Ekonomi Baru Warga Probolinggo

Sebarkan artikel ini
Wali Kota Probolinggo dr. Aminuddin menghadiri panen raya pisang cavendish./ Foto: Istimewa

PROBOLINGGO,- Wali Kota Probolinggo dr. Aminuddin menghadiri panen raya pisang cavendish di RT 7 RW 3 Kelurahan Wonoasih, Kecamatan Wonoasih, Rabu (13/5/2026).

Lahan seluas 2.500 meter persegi itu dikelola LKSA Yayasan Panti Asuhan Al Umah dengan sekitar 280 pohon pisang cavendish.

Dalam kesempatan tersebut, dr. Aminuddin menilai pisang cavendish memiliki potensi besar untuk dikembangkan di Probolinggo. Pemkot berencana menjadikan komoditas tersebut sebagai salah satu unggulan daerah.

“Kita akan menerapkan pisang cavendish menjadi komoditas utama di samping padi dan jagung. Kebutuhan pisang ini sangat banyak karena menjadi buah konsumsi harian,” kata Aminuddin.

Ia mengungkapkan, permintaan pasar terhadap pisang cavendish terus meningkat. Menurutnya, produksi dari lahan yang ada saat ini sudah menunjukkan hasil yang cukup menjanjikan.

“Dalam satu bulan bisa mencapai sekitar 3 ton. Potensi ini sebenarnya luar biasa, hanya saja masyarakat belum banyak mengetahui dan belum sadar terhadap peluang besarnya,” ujarnya.

Ke depan, Pemkot Probolinggo juga akan membagikan bibit pisang cavendish kepada masyarakat. Program tersebut akan dibarengi pelatihan budidaya bersama Al Umah dan DKPPP.

“Nantinya ada pelatihan dari Al-Umah bersama DKPPP, termasuk pemanfaatan dari pohon pisang yang sudah dipotong agar tidak terbuang sia-sia,” tambahnya.

Sementara itu, Ketua Yayasan Panti Asuhan Al Umah, Ustaz Sanip mengatakan saat ini pihaknya memiliki lahan sekitar 4 hektar. Dari lahan tersebut, panen pisang cavendish dapat dilakukan hampir setiap dua minggu sekali.

“Saat ini kami memiliki lahan sekitar 4 hektar dan hampir setiap dua minggu sekali bisa panen pisang cavendish. Kami siap menjalin kerja sama dengan Pemerintah Kota Probolinggo,” katanya.

Menurut Sanip, tantangan yang masih dihadapi berada pada proses pengemasan dan distribusi hasil panen. Sebab, pengemasan masih dilakukan di luar kota, sementara pemasaran produk sebagian besar dikirim ke Surabaya.***