PROBOLINGGO,- Pemerintah memastikan ketersediaan bahan bakar minyak (BBM) dan liquefied petroleum gas (LPG) dalam kondisi aman menjelang Hari Raya Idulfitri 1447 H atau Lebaran 2026.
Hal tersebut disampaikan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia kepada Presiden Prabowo Subianto dalam Sidang Kabinet Paripurna di Jakarta.
Bahlil mengatakan, cadangan BBM nasional saat ini berada di atas batas minimum sehingga dinilai mampu memenuhi kebutuhan masyarakat selama masa mudik dan libur Lebaran.
“Jadi saya pikir untuk urusan bensin, insya Allah clear Bapak. Cadangan menjelang hari raya untuk semua BBM dan LPG, insya Allah aman,” kata Bahlil dalam keterangannya, dikutip Minggu (15/3/2026).
Berdasarkan data yang dipaparkan, cadangan BBM jenis RON 90 atau Jenis BBM Khusus Penugasan (JBKP) mencapai sekitar 24,39 hari. Sementara cadangan RON 92 tercatat sekitar 28 hari dan RON 98 sekitar 31 hari.
Untuk jenis solar subsidi, cadangan diperkirakan mencapai 16,41 hari. Sedangkan solar CN 53 memiliki cadangan hingga 46 hari dan avtur sekitar 38 hari.
Menurut Bahlil, ketersediaan solar relatif stabil karena seluruh produksinya berasal dari dalam negeri.
“Khusus solar relatif lebih stabil karena produksinya dari dalam negeri,” ujarnya.
Kondisi tersebut juga didukung oleh beroperasinya proyek kilang Refinery Development Master Plan (RDMP) Balikpapan, Kalimantan Timur pada Januari 2026 yang meningkatkan kapasitas produksi kilang nasional.
Bahlil menyebut proyek tersebut dapat mengurangi impor bensin hingga sekitar 5,5 juta ton per tahun dan impor solar sekitar 3,5 juta ton per tahun.
Di sisi lain, pemerintah juga memastikan pasokan LPG tetap terjaga meski terjadi dinamika distribusi global.
Saat ini sekitar 70-72 persen impor LPG Indonesia berasal dari Amerika Serikat, sekitar 20 persen dari Timur Tengah, dan sisanya dari beberapa negara lain.
Untuk mengantisipasi ketidakpastian pasokan dari Timur Tengah, pemerintah menyiapkan alternatif tambahan pasokan dari negara lain, termasuk Australia.
“Di akhir minggu ini kita masuk dua kargo dari Australia untuk LPG,” kata Bahlil.
Ia menambahkan, pemerintah terus mendorong pembangunan kilang minyak guna meningkatkan produksi energi dalam negeri dan mengurangi ketergantungan pada impor.
“Kalau lifting kita tidak mencapai 1,6 juta barel per hari, maka selisih antara kebutuhan crude dan kemampuan lifting itulah yang kita impor,” tuturnya.***














