JAKARTA,- Pemerintah memastikan pasokan energi nasional tetap aman dan terjangkau di tengah dinamika global. Langkah ini diiringi upaya mengurangi ketergantungan impor melalui penguatan sektor energi dalam negeri.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Bahlil Lahadalia, menegaskan bahwa ketahanan energi tidak hanya soal ketersediaan pasokan. Lebih dari itu, energi juga berkaitan dengan kedaulatan dan keberlanjutan ekonomi nasional.
“Ketahanan energi bukan hanya soal pasokan, tetapi juga soal kedaulatan dan keberlanjutan ekonomi nasional. Pemerintah akan terus memastikan energi itu tetap tersedia dan terjangkau bagi masyarakat,” ujarnya, dikutip Kamis (16/4/2026).
Dalam memperkuat energi domestik, pemerintah mendorong pengembangan substitusi LPG. Salah satunya melalui hilirisasi batu bara menjadi dimethyl ether (DME).
Menurut Bahlil, program ini diharapkan mampu menekan ketergantungan impor secara bertahap. Meski demikian, realisasinya membutuhkan waktu serta dukungan investasi yang besar.
“Langkah ini menjadi bagian dari strategi jangka panjang untuk mengurangi impor, meskipun membutuhkan proses dan investasi yang tidak kecil,” imbuhnya.
Selain itu, pemerintah juga meningkatkan kapasitas kilang dalam negeri. Penguatan ini termasuk pengembangan kilang di Balikpapan serta implementasi program biodiesel.
Bahlil menyebut, langkah tersebut telah menunjukkan hasil. Indonesia kini berhasil menghentikan impor solar, meskipun masih menghadapi tantangan pada komoditas lain.
“Untuk solar kita sudah tidak impor. Tantangannya masih pada bensin dan LPG yang masih bergantung pada pasar global,” jelasnya.
Pemerintah juga terus memperkuat kebijakan strategis untuk menjaga stabilitas pasokan energi. Upaya ini dilakukan guna melindungi daya beli masyarakat.
Berdasarkan data Kementerian ESDM, kebutuhan minyak nasional mencapai sekitar 1,6 juta barel per hari. Sementara produksi domestik baru sekitar 605 ribu barel per hari.
Kondisi tersebut membuat Indonesia masih mengandalkan impor dalam jumlah besar. Hampir satu juta barel per hari didatangkan dari luar negeri.
“Sekitar 20 hingga 25 persen impor itu melewati Selat Hormuz, yang saat ini terdampak ketegangan geopolitik,” ungkap Bahlil.
Sementara itu, Prabowo Subianto menargetkan penguatan energi berbasis sawit melalui program biodiesel. Kebijakan ini menjadi bagian dari strategi menghadapi ketidakpastian global.
“Campuran kelapa sawit hingga 50 persen pada bahan bakar akan memperkuat posisi Indonesia dalam menghadapi tantangan energi global,” ujar Prabowo dalam forum bisnis Indonesia-Jepang di Tokyo.
Melalui berbagai langkah tersebut, pemerintah optimistis ketahanan energi nasional dapat terus diperkuat. Sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap impor secara bertahap.***













