JAKARTA,- Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti menegaskan bahwa setiap murid memiliki kemampuan dan kebutuhan belajar yang berbeda. Karena itu, pendidikan harus memperhatikan penguasaan materi sekaligus pembentukan karakter.
Hal tersebut disampaikan Abdul Mu’ti dalam siaran langsung melalui TikTok Kumparan, Selasa (27/10/2026). Ia menekankan pentingnya pembelajaran yang menyesuaikan kemampuan setiap anak.
Menurut Abdul Mu’ti, murid yang memiliki kemampuan akademik tinggi perlu diberi kesempatan belajar lebih cepat. Sebaliknya, murid yang mengalami kesulitan harus mendapatkan pendampingan agar mampu menguasai materi.
“Pendidikan itu harus memberikan ruang namanya diferensiasi, artinya murid itu tidak sama dan tidak boleh disamakan. Karena dalam kebijakan pendidikan itu ada namanya akselerasi, yang pintar boleh dipercepat,” ujarnya.
Ia menjelaskan, murid yang belum memahami materi membutuhkan perhatian khusus. Penguasaan kompetensi dasar menjadi penting agar mereka tidak semakin kesulitan saat mempelajari materi pada tingkat berikutnya.
Prinsip tersebut menjadi salah satu pertimbangan dalam rencana kebijakan tidak otomatis naik kelas yang disiapkan mulai tahun ajaran 2027/2028. Kebijakan ini diarahkan untuk memperkuat penguasaan kompetensi murid sebelum melanjutkan pembelajaran.
Abdul Mu’ti menilai, murid yang belum menguasai materi dasar berisiko mengalami kesulitan jika tetap naik kelas tanpa pendampingan yang memadai. Karena itu, evaluasi perlu dilakukan untuk menentukan kebutuhan belajar setiap anak.
“Kalau anak secara akademik rendah atau belum mampu, lalu tetap naik kelas, itu malah membebani psikologis anak itu sendiri,” katanya.
Hasil penilaian, lanjutnya, harus menjadi dasar bagi guru untuk memberikan penguatan materi. Dengan begitu, murid memiliki kesempatan memperbaiki pemahaman sebelum menghadapi pelajaran yang lebih kompleks.
Selain kemampuan akademik, Abdul Mu’ti mengingatkan guru agar tidak terburu-buru menghakimi murid yang mengalami kesulitan belajar. Kondisi anak perlu dipahami secara menyeluruh, termasuk faktor keluarga dan lingkungan.
Ia mencontohkan murid yang sering mengantuk di kelas. Kondisi tersebut belum tentu menunjukkan kemalasan karena anak mungkin harus bekerja pada malam hari atau menghadapi tanggung jawab lain.
“Jangan selalu langsung dihakimi. Sering mendengar cerita, ada anak setiap berangkat sekolah selalu tidur di dalam kelas. Mohon maaf dengan segala hormat, malam harus bekerja atau mengerjakan hal-hal yang tidak bisa dihindari karena keadaannya,” tuturnya.
Menurutnya, guru perlu membangun komunikasi dengan murid dan keluarga untuk mengenali penyebab kesulitan belajar. Pendekatan ini diharapkan membantu sekolah memberikan pendampingan yang sesuai dengan kondisi setiap anak.
Abdul Mu’ti juga menegaskan bahwa keberhasilan pendidikan tidak hanya ditentukan oleh nilai akademik. Sikap jujur, tanggung jawab, dan kemampuan menghargai orang lain juga menjadi bagian penting dalam perkembangan murid.
Murid yang memperoleh nilai tinggi tetap perlu dibimbing dalam pembentukan karakter. Sementara itu, murid yang belum mencapai target belajar harus mendapat kesempatan memperbaiki kemampuan melalui pendampingan.
Dengan demikian, evaluasi pembelajaran tidak sekadar menjadi alat untuk membandingkan prestasi antarmurid. Penilaian juga harus membantu guru mengenali kebutuhan setiap anak agar proses pendidikan berjalan sesuai kemampuan dan potensi mereka.***

























