JAKARTA,- Disrupsi industri digital kian masif. Pemerintah menilai kolaborasi lintas sektor menjadi kebutuhan mendesak.
Sekretaris Jenderal Kemkomdigi, Ismail, menegaskan hal itu saat Halalbihalal Masyarakat Telematika Indonesia (Mastel) 1447 H di Jakarta, dikutik Selasa (28/4/2026).
Ia menyebut lanskap industri digital telah berubah cepat. Peran telekomunikasi pun tidak lagi sebagai penggerak utama.
“Dulu telekomunikasi menjadi prime mover, sekarang lebih sebagai fondasi infrastruktur,” ujarnya.
Menurutnya, perubahan tersebut menuntut sinergi semua pihak. Pemerintah, industri, akademisi, hingga masyarakat harus berjalan bersama.
“Tidak ada satu pun yang bisa bekerja sendiri, termasuk pemerintah,” tegas Ismail.
Kemkomdigi pun mendorong penguatan ekosistem digital nasional. Fokusnya pada tiga pilar utama.
Pertama, keterhubungan melalui pemerataan infrastruktur. Kedua, pertumbuhan lewat pemanfaatan teknologi.
Ketiga, keterjagaan atau keamanan ruang digital. Aspek ini dinilai semakin krusial.
Ismail menyoroti dampak negatif teknologi, terutama bagi anak-anak. Mulai dari adiksi hingga gangguan psikologis.
“Keselamatan ruang digital harus dijaga bersama,” katanya.
Ia juga mengingatkan risiko besar jika kolaborasi lemah. Indonesia bisa hanya menjadi pasar digital global.
Karena itu, sinergi seluruh pemangku kepentingan harus diperkuat. Tujuannya membangun industri digital yang mandiri dan berdaya saing.***













