banner 728x90
Berita

Elektabilitas Gerindra Turun, Sejalan dengan Penilaian Publik ke Presiden Prabowo

×

Elektabilitas Gerindra Turun, Sejalan dengan Penilaian Publik ke Presiden Prabowo

Sebarkan artikel ini
Presiden Republik Indonesia sekaligus ketua umum Partai Gerindra, Prabowo Subianto./ Foto: Diolah bolinggo.co

JAKARTA,- Peta kekuatan partai politik nasional kembali mengalami pergeseran. Survei terbaru menunjukkan Partai Gerindra masih berada di posisi teratas, namun tren dukungannya mulai melemah dalam beberapa bulan terakhir.

Temuan tersebut terungkap dalam survei Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) bertajuk “Elektabilitas Partai” yang dilaksanakan pada 5-19 Juli 2026.

Direktur Eksekutif SMRC, Deni Irvani, menyampaikan bahwa dalam simulasi semi terbuka, Gerindra memperoleh 16,9 persen suara. Meski tetap memimpin, angka ini menunjukkan penurunan signifikan dibandingkan periode sebelumnya.

“Pada survei Juli 2026, elektabilitas Gerindra turun cukup tajam menjadi 16,9 persen,” ujar Deni dalam pemaparan melalui kanal YouTube SMRC TV, Kamis (30/7/2026).

Di bawah Gerindra, PDI Perjuangan meraih 11,7 persen suara. Disusul Partai Golkar dengan 9,6 persen dan Partai Demokrat sebesar 8,1 persen.

Sementara itu, Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) memperoleh 5,4 persen. Partai NasDem dan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) masing-masing 4,4 persen, serta Partai Solidaritas Indonesia (PSI) 4,1 persen.

Adapun partai lainnya berada di bawah tiga persen. Sebanyak 25,9 persen responden tercatat belum menentukan pilihan atau tidak menjawab.

Deni menjelaskan, penurunan elektabilitas Gerindra tidak terlepas dari dinamika penilaian publik terhadap kinerja pemerintah, khususnya Presiden Prabowo Subianto.

“Penurunan elektabilitas Gerindra konsisten paralel dengan turunnya evaluasi positif publik terhadap kinerja Presiden Prabowo,” jelasnya.

Menurutnya, persepsi publik terhadap kondisi ekonomi, politik, dan penegakan hukum ikut memengaruhi preferensi pemilih terhadap partai politik.

“Sentimen terhadap kondisi ekonomi, politik, penegakan hukum, serta program-program prioritas pemerintah turut berkontribusi terhadap perubahan dukungan ini,” imbuh Deni.

Secara historis, elektabilitas Gerindra sempat mengalami lonjakan signifikan. Pada Pemilu 2024, partai ini memperoleh 13,2 persen suara.

Angka tersebut meningkat menjadi 23,3 persen pada November 2025. Bahkan kembali naik hingga 29,3 persen pada periode Februari–Maret 2026.

Namun, tren itu berbalik pada survei Juli 2026. Dalam waktu relatif singkat, elektabilitas Gerindra turun menjadi 16,9 persen.

Penurunan juga dialami PDI Perjuangan, dari 16,7 persen pada Pemilu 2024 menjadi 11,7 persen saat ini. Golkar turut melemah dari 15,3 persen menjadi 9,6 persen.

Sementara itu, Partai Demokrat menunjukkan tren relatif stabil dengan kenaikan tipis dari 7,4 persen menjadi 8,1 persen.

Adapun PKB, PKS, NasDem, dan PAN tercatat mengalami fluktuasi. Namun secara umum, tren dukungannya cenderung menurun.

Survei ini melibatkan 749 responden yang memiliki hak pilih dan dipilih secara acak. Metode yang digunakan merupakan kombinasi wawancara telepon dan tatap muka.

Sebanyak 83,8 persen responden diwawancarai melalui telepon seluler. Sementara 16,2 persen lainnya diwawancarai secara langsung.

SMRC menyebut metode tersebut disesuaikan dengan proporsi pengguna telepon di Indonesia. Survei ini memiliki margin of error sekitar ±3,7 persen.

Dengan margin tersebut, perbedaan dinilai signifikan apabila melebihi dua kali margin of error atau sekitar 7,4 persen.***