JAKARTA,- Tekanan terhadap rupiah berpotensi meningkat seiring ekspektasi kenaikan suku bunga The Federal Reserve (The Fed). Kondisi ini terjadi bersamaan dengan harga minyak yang kembali menembus US$100 per barel dan yield US Treasury 10 tahun yang mendekati lima persen.
Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia, Fakhrul Fulvian, mengatakan Indonesia perlu menyiapkan strategi berlapis untuk menghadapi mahalnya biaya modal global. Menurutnya, menjaga rupiah tidak cukup hanya mengandalkan BI Rate.
“Higher-for-longer berarti bunga tidak turun. Yang perlu mulai kita antisipasi sekarang adalah kemungkinan bunga global justru harus naik lagi. Kalau itu terjadi, tekanan terhadap emerging markets akan datang bukan hanya melalui dolar, tetapi juga melalui repricing seluruh harga modal global,” ujar Fakhrul dalam keterangannya, Senin (14/9/2026).
Menurutnya, BI Rate tetap menjadi jangkar kebijakan moneter. Namun, tekanan terhadap rupiah, likuiditas, arus modal dan inflasi akibat kenaikan harga minyak membutuhkan respons yang berbeda.
Salah satu instrumen yang dapat menyerap tekanan global adalah pasar Surat Utang Negara (SUN). Trimegah melihat yield SUN 10 tahun berpotensi bergerak menuju 7,3-7,5 persen untuk menemukan tingkat imbal hasil yang sesuai dengan kondisi pasar.
“Kenaikan yield SUN menuju 7,3-7,5% tidak harus dilihat sebagai kegagalan menjaga pasar. Justru yield yang menemukan clearing price dapat menjadi salah satu guardrail bagi rupiah karena membantu mempertahankan daya tarik aset Indonesia ketika yield global naik,” katanya.
Fakhrul menilai sebagian penyesuaian lebih baik terjadi melalui pasar obligasi daripada seluruh tekanan diserap oleh nilai tukar. Ia juga memperkirakan pelemahan rupiah masih dapat dibatasi hingga sekitar Rp17.800 per dolar AS.
“Saya lihat potensi pelemahan rupiah hanya sampai ke 17.800,” ujarnya.
Selain kebijakan moneter, ia mendorong penguatan Local Currency Transaction (LCT). Menurutnya, LCT perlu dikembangkan tidak hanya untuk settlement, tetapi juga mencakup likuiditas, lindung nilai, pembiayaan perdagangan dan investasi.
“LCT generasi pertama berbicara mengenai settlement. LCT berikutnya harus berbicara mengenai liquidity, hedging, trade finance dan investment financing,” katanya.
Fakhrul menegaskan LCT bukan upaya menggantikan dolar AS, melainkan mengurangi ketergantungan terhadap satu sumber likuiditas eksternal.
Di sisi lain, pemerintah dinilai perlu memperkuat pasokan valuta asing melalui peningkatan ekspor, investasi langsung, kapasitas produksi domestik dan kebijakan energi. Sumber pembiayaan eksternal bagi perusahaan Indonesia juga perlu diperluas.
“Kita perlu bergerak dari ketergantungan pada portfolio inflow menuju struktur capital flow yang lebih berimbang antara portfolio, FDI dan private-sector financing,” ujarnya.
Fakhrul menilai Indonesia tidak mungkin mempertahankan seluruh harga sekaligus ketika biaya modal global meningkat. Karena itu, setiap instrumen perlu menjalankan fungsinya sesuai sumber tekanan.
“Yang perlu kita jaga bukan seluruh harga, tetapi sistemnya. Biarkan bond market menemukan harga, guardrail rupiah dari volatilitas berlebihan, diversifikasi sumber likuiditas eksternal melalui LCT, dan gunakan kebijakan pemerintah untuk memperbaiki fundamental neraca pembayaran,” tutupnya.***















