banner 728x90
Berita

BRIN Pantau Gunung Anak Krakatau, Belum Ada Anomali yang Picu Tsunami

×

BRIN Pantau Gunung Anak Krakatau, Belum Ada Anomali yang Picu Tsunami

Sebarkan artikel ini
BRIN dan BMKG terus memantau aktivitas Gunung Anak Krakatau./ Foto: BRIN

JAKARTA,- Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) terus memantau aktivitas Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda.

Hasil pemantauan terbaru menunjukkan sistem IDSL/PUMMA di Rakata belum mendeteksi anomali muka air yang berpotensi menimbulkan tsunami tambahan.

Sistem tersebut berada dekat dengan sumber potensi bahaya. Selain mendeteksi perubahan kondisi laut, IDSL/PUMMA juga menjadi penghubung pemantauan volcano-tsunami antara PVMBG dan BMKG.

Periset Pusat Riset Kebencanaan Geologi BRIN, Semeidi, mengatakan posisi IDSL/PUMMA di Rakata sangat strategis karena dekat dengan sumber potensi tsunami.

“Keberadaan IDSL/PUMMA sangat dekat dengan sumber potensi tsunami, sehingga bisa cepat mendeteksi,” ujar Semeidi dalam keterangan tertulis, Kamis (10/9/2026).

Pemantauan aktivitas Gunung Anak Krakatau telah dilakukan sejak 4 September 2026. Tim juga mengamati kemungkinan adanya perubahan muka air di sekitar kawasan tersebut.

Pemantauan dilakukan setelah PVMBG melaporkan adanya peningkatan aktivitas Gunung Anak Krakatau.

“Sejauh ini, walaupun ada peningkatan aktivitas gunung api sebagaimana dilaporkan PVMBG, data IDSL/PUMMA tidak menunjukkan anomali yang berpotensi menimbulkan bencana tambahan seperti tsunami,” jelasnya.

Menurut Semeidi, sistem pemantauan di kawasan Krakatau kini juga mendapat dukungan infrastruktur komunikasi yang lebih baik dibandingkan kondisi pada 2018.

IDSL/PUMMA didukung cakupan jaringan seluler GSM Telkomsel dan Satelit Telekomunikasi BAKTI di kawasan Krakatau.

Dukungan tersebut membantu proses pertukaran informasi serta pelaporan kondisi di lapangan.

“Sehingga masyarakat atau nelayan bisa melaporkan langsung kondisi di sana,” katanya.

Semeidi menjelaskan, keberadaan alat pemantauan yang dekat dengan sumber aktivitas gunung api menjadi penting untuk mengetahui perubahan kondisi lebih cepat.

Data tersebut selanjutnya dapat digunakan sebagai bahan koordinasi antarlembaga dalam pemantauan maupun penyampaian peringatan dini.

Sementara itu, terkait dentuman keras dan getaran yang dirasakan di sejumlah wilayah Banten dan Jawa Barat, Semeidi menyebut fenomena tersebut kemungkinan berkaitan dengan ledakan atau aktivitas Gunung Anak Krakatau.

Meski demikian, hasil pemantauan sejauh ini belum menunjukkan gangguan signifikan terhadap muka air.

“Namun, sejauh ini tidak cukup kuat untuk mengganggu muka air sehingga tidak terjadi potensi atmospheric-tsunami,” ujarnya.

Kemampuan IDSL/PUMMA dalam mendeteksi perubahan muka air juga pernah terlihat saat erupsi Gunung Hunga Tonga pada 2022.

Erupsi besar tersebut memicu perubahan atmosfer dan fenomena atmospheric-tsunami yang kemudian terdeteksi hingga wilayah Indonesia.

“Seluruh data dan peringatan tsunami saat itu juga tersampaikan ke BMKG,” kata Semeidi.

BRIN bersama lembaga terkait akan terus memantau perkembangan aktivitas Gunung Anak Krakatau.

Masyarakat diimbau tetap tenang dan tidak menyebarkan informasi yang belum terverifikasi.

“Kami mengimbau masyarakat untuk tetap tenang, tidak panik, dan tidak terpengaruh oleh informasi yang belum jelas sumbernya,” tuturnya.

Semeidi menegaskan, apabila terdapat perubahan kondisi yang berpotensi membahayakan masyarakat, informasi dan peringatan akan disampaikan melalui kanal resmi lembaga berwenang.***