JAKARTA,- Air minum dari galon guna ulang berbahan polikarbonat (PC) yang memenuhi standar keamanan pangan tidak terbukti menyebabkan kanker, gangguan hormon, maupun gangguan sistem reproduksi.
Hal tersebut diperkuat penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal ilmiah AIMS Environmental Science. Riset ini melibatkan peneliti dari Universitas Airlangga (Unair), Universitas Hasanuddin, dan Universiti Teknologi MARA Malaysia.
Penelitian dilakukan terhadap 96 responden di Surabaya. Kajian tersebut secara khusus melihat paparan Bisphenol A (BPA) dari konsumsi air minum dalam kemasan serta kaitannya dengan sejumlah gangguan kesehatan.
Hasil penelitian menunjukkan tidak terdapat hubungan yang bermakna antara paparan BPA dari air minum dalam kemasan dengan penyakit yang selama ini kerap dikaitkan dengan senyawa tersebut.
Paparan BPA juga tidak menunjukkan hubungan signifikan dengan karsinogenisitas, gangguan sistem reproduksi, maupun gangguan endokrin.
Peneliti Unair, Doktor Sudarmaji, menjelaskan hubungan antara paparan BPA dari air galon guna ulang PC dan gangguan kesehatan tergolong sangat lemah. Hal itu terlihat dari nilai korelasi r=0,151, meski secara statistik tercatat bermakna dengan p=0,008.
Menurut Sudarmaji, BPA bukan satu-satunya faktor yang dapat memengaruhi kondisi kesehatan seseorang. Faktor genetik, kualitas udara, pola makan, infeksi, serta paparan lingkungan lainnya juga dapat berperan.
“Jadi hasil penelitian ini tidak dapat diartikan bahwa BPA menyebabkan alergi, melainkan menunjukkan adanya hubungan yang layak diteliti lebih lanjut,” kata Sudarmaji dalam keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Minggu (23/8/2026).
Dengan demikian, air dalam galon guna ulang tetap dapat dikonsumsi selama produk tersebut dibuat sesuai standar dan memenuhi persyaratan keamanan pangan.
Pakar teknik kimia Steven Soen juga menyampaikan hal serupa. Menurutnya, hingga kini belum terdapat bukti bahwa migrasi BPA dari galon PC melebihi batas aman yang ditetapkan regulator.
Steven menyebut hasil riset Institut Teknologi Bandung (ITB) mengenai uji migrasi BPA pada empat sampel air minum menunjukkan kadarnya masih jauh di bawah ambang batas Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).
“Riset yang sempat dilakukan ITB terkait uji migrasi BPA terhadap 4 air minum. Hasil ujinya (BPA) itu jauh di bawah ambang batas BPOM,” ujar Steven.
Ia menegaskan, keberadaan BPA dalam suatu material tidak serta-merta berarti membahayakan kesehatan. Hal yang perlu diperhatikan adalah jumlah zat yang bermigrasi ke makanan atau minuman dan apakah kadarnya masih berada di bawah batas aman.
Meski demikian, Steven mengingatkan masyarakat agar menyimpan galon dengan baik. Galon sebaiknya tidak dibiarkan terkena paparan sinar matahari secara terus-menerus dalam waktu lama.
Menurut dia, penyimpanan yang tepat penting untuk menjaga kualitas material dan memastikan tidak terjadi pelepasan zat dari polikarbonat ke dalam air.
Steven juga meminta masyarakat lebih kritis dalam menyikapi informasi mengenai BPA. Ia menilai keamanan produk pangan harus mengacu pada hasil pengujian ilmiah serta standar yang ditetapkan pemerintah.
“Jadi jangan mudah terprovokasi. Isu itu boleh bergulir selicin apapun, tetapi kita harus lebih kritis dan selektif terhadap isu-isu tersebut,” katanya.
Periset postdoctoral BRIN tersebut menambahkan, BPA sebenarnya digunakan pada berbagai produk yang bersentuhan dengan manusia. Karena itu, menurutnya, pembahasan mengenai BPA tidak semestinya hanya diarahkan pada galon berbahan polikarbonat.
“BPA itu ada di mana-mana. Ada di makanan kaleng, ada di gigi palsu, ada di pelapis kertas pembungkus makanan, ada juga di bahan epoksi,” ujar Steven.
Ia menilai masyarakat perlu melihat isu BPA secara lebih menyeluruh. Informasi mengenai keamanan pangan, kata dia, sebaiknya didasarkan pada data ilmiah dan hasil pengujian, bukan semata-mata pada opini yang beredar di masyarakat.***















