banner 728x90
Islami

8 Keistimewaan Hajar Aswad, Calon Jemaah Haji dan Umroh Wajib Tahu

×

8 Keistimewaan Hajar Aswad, Calon Jemaah Haji dan Umroh Wajib Tahu

Sebarkan artikel ini
Batu hajar aswad./ Foto: Istimewa

BOLINGGODOTCO,- Di antara keindahan yang menghiasi Ka’bah, ada satu batu hitam yang selalu menjadi pusat perhatian jutaan umat Islam yaitu Hajar Aswad. Batu ini bukan batu biasa.

Batu tersebut berasal dari surga, sebagaimana disebutkan dalam banyak riwayat. Dahulu warnanya putih bercahaya, namun karena menyerap dosa-dosa manusia yang menyentuhnya dengan penuh penyesalan, warnanya berubah menjadi hitam.

Sayyid Muhammad bin Alawi al-Maliki dalam Al-Hajj Fadhâil wa Ahkâm menyebutkan delapan keutamaan yang dimiliki Hajar Aswad. Berikut penjelasannya:

1. Disyariatkan untuk Dicium dan Disentuh

Mencium Hajar Aswad adalah sunnah Nabi Muhammad SAW. Amalan ini dilakukan bukan karena batunya memiliki kekuatan gaib, melainkan bentuk ketaatan dan cinta kepada Rasulullah.

Sayyidina Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu berkata di hadapan Hajar Aswad:

إِنِّي أَعْلَمُ أَنَّكَ حَجَرٌ، لاَ تَضُرُّ وَلاَ تَنْفَعُ، وَلَوْلاَ أَنِّي رَأَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُقَبِّلُكَ مَا قَبَّلْتُكَ

“Sungguh, aku tahu engkau hanyalah batu, tidak memberi manfaat dan tidak pula mudarat. Jika bukan karena aku melihat Rasulullah menciummu, aku tidak akan menciummu.” (HR. Bukhari)

2. Batu Termulia di Bumi

Hajar Aswad menempati sudut timur laut Ka’bah, tempat pertama kali diletakkan oleh Nabi Ibrahim dan putranya, Nabi Ismail.

Allah SWT berfirman:

وَإِذْ يَرْفَعُ إِبْرَاهِيمُ الْقَوَاعِدَ مِنَ الْبَيْتِ وَإِسْمَاعِيلُ رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا ۖ إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

“Dan (ingatlah), ketika Ibrahim meninggikan dasar-dasar Baitullah bersama Ismail (seraya berdoa): Ya Tuhan kami, terimalah dari kami (amalan kami). Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 127)

3. Tanda Permulaan Tawaf

Setiap jamaah yang tawaf selalu memulai putarannya dari posisi Hajar Aswad. Batu ini menjadi penanda suci dimulainya ibadah tawaf langkah pertama menuju penghambaan kepada Allah.

4. Simbol “Tangan Allah” di Bumi

Rasulullah SAW bersabda:

مَنْ فَاوَضَهُ، فَإِنَّمَا يُفَاوِضُ يَدَ الرَّحْمَنِ

“Barang siapa menyentuhnya (Hajar Aswad), maka sesungguhnya ia telah berjabat tangan dengan tangan Allah Yang Maha Pengasih.” (HR. Ibnu Mājah, no. 2957)

Tentu maknanya bukan secara harfiah, melainkan simbolik, menyentuh Hajar Aswad berarti mengikrarkan janji ketaatan kepada Allah.

5. Memiliki Cahaya dari Surga

Diriwayatkan bahwa Hajar Aswad dahulu memancarkan cahaya terang dari surga, menerangi timur dan barat. Namun, Allah menutupi cahayanya agar manusia dapat melihatnya dengan mata biasa.

6. Menjadi Saksi di Hari Kiamat

Pada hari akhir nanti, Hajar Aswad akan menjadi saksi bagi orang-orang yang menyentuhnya dengan penuh iman.

Rasulullah SAW bersabda:

وَاللَّهِ لَيَبْعَثَنَّهُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ لَهُ عَيْنَانِ يُبْصِرُ بِهِمَا، وَلِسَانٌ يَنْطِقُ بِهِ، يَشْهَدُ عَلَى مَنْ اسْتَلَمَهُ بِحَقٍّ

“Demi Allah, Allah akan membangkitkannya pada hari kiamat dengan dua mata yang melihat dan lidah yang berbicara, ia akan bersaksi bagi orang yang menyentuhnya dengan benar.” (HR. Tirmidzi, no. 961)

7. Memberikan Syafaat

Dalam riwayat At-Thabrani disebutkan, Hajar Aswad akan memberikan syafaat kepada orang yang menyentuh dan menciumnya dengan penuh keyakinan serta kecintaan kepada Allah.

8. Lambang Baiat kepada Allah dan Rasul-Nya

Imam al-Azraqi meriwayatkan:

إِنَّ الْحَجَرَ الْأَسْوَدَ يَمِينُ اللَّهِ فِي الْأَرْضِ، فَمَنْ لَمْ يُدْرِكْ بَيْعَةَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَمَسَحَ الْحَجَرَ، فَقَدْ بَايَعَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ

“Sesungguhnya Hajar Aswad adalah tangan Allah di muka bumi. Barang siapa yang tidak sempat berbaiat kepada Rasulullah, lalu mengusap Hajar Aswad, maka ia telah berbaiat kepada Allah dan Rasul-Nya.” (Akhbāru Makkah, Juz 1, hal. 325)

Hajar Aswad bukan sekadar batu, melainkan simbol cinta, penyerahan diri, dan kesetiaan seorang hamba kepada Tuhannya.

Setiap sentuhan dan kecupan yang diberikan di sana bukan untuk batu itu sendiri, tapi sebagai saksi janji suci antara manusia dan Allah, janji untuk terus beriman, tunduk, dan mencintainya dengan sepenuh hati.***