banner 728x90
Islami

Mengapa Orang yang Pulang Haji Dipanggil Haji? Ini Sejarahnya

×

Mengapa Orang yang Pulang Haji Dipanggil Haji? Ini Sejarahnya

Sebarkan artikel ini
Jemaah tawaf di masjidil haram./ Foto: Istimewa

BOLINGGODOTCO,- Pemberian gelar haji setelah menunaikan ibadah ke Tanah Suci merupakan tradisi yang sangat dikenal di Indonesia. Hampir di setiap daerah, seseorang yang baru pulang dari Makkah akan disapa dengan sebutan Haji atau Hajjah di depan namanya.

Namun, apakah tradisi ini hanya ada di Indonesia? Jawabannya: tidak.

Kementerian Agama, Dadi Darmadi, antropolog dari UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, menjelaskan bahwa tradisi pemberian gelar haji juga ditemukan di wilayah lain di dunia Islam Melayu, seperti Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam, hingga Thailand Selatan.

Bahkan di beberapa wilayah seperti Mesir Utara, masyarakat memiliki cara unik untuk merayakan kepulangan jamaah haji. Mereka tidak hanya memberikan gelar, tetapi juga melukis dinding rumah dengan gambar Ka’bah atau kendaraan yang digunakan menuju Makkah, sebagai simbol kebanggaan dan syukur.

Menurut Filolog Oman Fathurahman, gelar haji di Nusantara memiliki makna yang sangat dalam. Di masa lalu, perjalanan menuju Tanah Suci bukanlah hal mudah. Jamaah haji dari Indonesia harus menempuh perjalanan laut selama berbulan-bulan dengan penuh tantangan.

1. Perspektif Keagamaan

Dalam perspektif agama, haji merupakan rukun Islam kelima, penyempurna keimanan bagi umat Muslim. Proses panjang dan pengorbanan besar yang harus dilakukan menjadikan haji sebagai ibadah yang istimewa.

Tidak semua orang mampu menunaikannya karena memerlukan kesiapan fisik, mental, dan finansial. Maka, penyematan gelar Haji dianggap sebagai penghormatan terhadap perjuangan spiritual seseorang. Dalam konteks ini, pemberian gelar menjadi bentuk pengakuan sosial atas keberhasilan menunaikan kewajiban suci tersebut.

2. Perspektif Kultural

Secara budaya, tradisi ini berkembang menjadi bagian dari identitas sosial. Cerita-cerita heroik dan pengalaman spiritual jamaah haji sering menjadi inspirasi masyarakat di kampung halaman.

Bahkan, kepulangan jamaah haji biasanya disambut meriah dengan upacara adat, arak-arakan, atau doa bersama. Dari sinilah muncul nilai sosial baru, di mana gelar haji dianggap sebagai simbol kehormatan dan kebanggaan keluarga.

Dalam konteks haji, fenomena ini memperlihatkan bahwa haji di Indonesia tidak hanya sebatas ibadah, tetapi juga bagian dari konstruksi sosial dan budaya yang terus hidup di masyarakat.

3. Perspektif Kolonial

Dari sisi sejarah kolonial, gelar haji juga punya kisah menarik. Pada masa penjajahan Belanda, pemerintah kolonial sempat khawatir dengan meningkatnya jumlah jamaah haji dari Hindia Belanda.

Mereka menganggap para haji membawa semangat perlawanan setelah belajar dari dunia Islam di Makkah. Untuk mengontrol pergerakan jamaah, Belanda mendirikan Konsulat Jenderal di Jeddah pada 1872 dan mewajibkan jamaah haji mengenakan atribut atau gelar tertentu agar mudah diawasi.

Kini, gelar haji tetap bertahan sebagai bagian dari kebanggaan umat Islam Indonesia. Tradisi ini menegaskan bahwa perjalanan ke Tanah Suci bukan hanya ritual spiritual, tetapi juga perjalanan budaya dan sejarah yang panjang.

Bagi masyarakat modern, informasi mengenai perjalanan haji, sejarahnya, dan makna sosialnya terus menjadi bahan menarik dalam berbagai info haji yang beredar di media.

Dari masa ke masa, gelar haji bukan sekadar simbol religius, tetapi juga identitas budaya umat Islam Nusantara yang sarat makna dan sejarahnya.***