banner 728x90
DaerahIslami

Pulau Gili Ketapang, Pulau Kecil di Probolinggo yang Dikenal Sebagai Kampung Haji

×

Pulau Gili Ketapang, Pulau Kecil di Probolinggo yang Dikenal Sebagai Kampung Haji

Sebarkan artikel ini
Pulau Gili Ketapang Probolinggo./ Humas Pemkab Probolinggo

PROBOLINGGO,- Di balik deburan ombak Selat Madura, berdiri sebuah pulau kecil yang menyimpan kisah besar tentang keteguhan iman dan semangat religius masyarakatnya.

Pulau tersebut bernama Gili Ketapang, sebuah wilayah di Kecamatan Sumberasih, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur. Meski luasnya tak seberapa, pulau ini begitu istimewa hingga dijuluki sebagai “Kampung Haji”.

Julukan itu bukan tanpa alasan. Dari sekitar tiga ribu kepala keluarga yang mendiami pulau ini, lebih dari 60 persen warganya telah menunaikan ibadah haji dan umrah.

Jumlah tersebut menjadikan palau Gili Ketapang sebagai penyumbang calon jemaah haji (CJH) terbanyak dari Kabupaten Probolinggo setiap tahunnya.

“Tujuan warga kami itu hanya haji. Membangun rumah atau kendaraan itu hanya penunjang. Dari 3.000 KK, sekitar 60 persen sudah berangkat haji,” tutur Munir, Kepala Desa Gili Ketapang, dengan nada bangga, dikutip, Senin (4/5/2025).

Semangat Ibadah Sejak Usia Dini

Bagi masyarakat Gili Ketapang, menunaikan ibadah ke Tanah Suci bukan sekadar cita-cita, melainkan bagian dari tradisi turun-temurun. Banyak keluarga yang mendaftarkan anak mereka berhaji sejak usia remaja, bahkan tak sedikit yang menjalankan umrah.

Profesi utama warga sebagai nelayan tak menghalangi mereka untuk menabung demi mewujudkan niat suci itu. Dari hasil laut, mereka menyisihkan sebagian pendapatan secara konsisten, kadang bertahun-tahun lamanya hingga akhirnya mampu berangkat ke Tanah Suci.

“Bagi kami, bisa ke Makkah itu kebahagiaan tertinggi. Laut adalah rezeki kami, tapi ibadah adalah tujuan hidup kami,” ujar salah satu warga yang baru kembali dari umrah tahun lalu.

Solidaritas yang Mengakar Kuat

Selain semangat ibadah yang luar biasa, masyarakat Gili Ketapang juga dikenal karena rasa kebersamaan dan solidaritas yang tinggi.

Setiap kali ada warga yang akan berangkat haji, hampir seluruh penduduk pulau ikut mengantarkan hingga ke pelabuhan. Mereka berangkat beriringan menggunakan puluhan kapal nelayan yang penuh sesak dengan keluarga, tetangga.

Tradisi ini bukan hanya bentuk dukungan moral, tapi juga simbol kekompakan dan rasa syukur bersama. Momen pelepasan calon jemaah haji di Gili Ketapang selalu menjadi pemandangan yang mengharukan.

Kampung Kecil dengan Hati yang Besar

Meski hidup di pulau kecil yang terpencil, warga Gili Ketapang membuktikan bahwa kemakmuran sejati bukan diukur dari harta benda, melainkan dari kesungguhan hati dalam beribadah. Mereka membangun kehidupan yang berpusat pada nilai-nilai spiritual, gotong royong, dan rasa syukur.

Kini, nama Gili Ketapang tak hanya dikenal karena keindahan alam lautnya, tetapi juga karena semangat religius warganya yang luar biasa. Di tengah derasnya arus modernisasi, pulau kecil ini tetap menjaga jati diri dan tradisi leluhurnya.

Gili Ketapang adalah cermin bahwa dari pulau kecil pun bisa lahir kisah besar tentang keimanan, kesederhanaan, dan cinta kepada Sang Pencipta.***