PROBOLINGGO,- Setelah lebih dari 20 tahun dikenal rusak dan rawan kejahatan, jalan di Desa Wedusan, Kecamatan Tiris, Kabupaten Probolinggo, kini ramai dan menjadi pusat ekonomi warga melalui Pasar Dadakan Wedusan.
Perubahan kondisi jalan dan lingkungan membuat kawasan ini semakin menarik. Lokasi yang sebelumnya sepi kini ramai dikunjungi masyarakat untuk liburan, menikmati pemandangan, sekaligus menikmati camilan UMKM.
Ketua Paguyuban UMKM Pasar Dadakan Wedusan, Zainul Arifin (26), mengatakan keramaian bermula setelah jalan diperbaiki dan lingkungan sekitar dibersihkan. Kondisi tersebut kemudian menarik perhatian warganet hingga viral di TikTok.
“Awalnya di sini sepi. Jalannya sudah rusak lebih dari 20 tahun. Setelah diperbaiki dan rumput-rumput dibersihkan, tempat ini mendadak viral di TikTok sebagai lokasi nongkrong dan menikmati pemandangan,” ujar Zainul saat ditemui, Rabu (28/10/2026).
Menurutnya, keberadaan pasar dadakan tersebut turut menarik pengunjung dan pedagang dari berbagai wilayah. Mereka tidak hanya berasal dari Kecamatan Tiris, tetapi juga Krucil, Maron, Wangkal, hingga Madura.
Keramaian itu membawa peluang baru bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) setempat. Selain menjadi tempat berjualan, pasar tersebut juga berkembang sebagai ruang interaksi sosial bagi masyarakat.
Salah satu pedagang, Erik Priska Wiantiana (40), yang akrab disapa Ica, mengaku merasakan suasana berbeda sejak berjualan di lokasi tersebut. Sebelumnya, ia hanya menjalankan usaha dari toko di rumahnya dengan menjual ikan dan makanan beku atau frozen food.
“Saya punya toko di rumah. Biasanya jualan ikan dan frozen food, sedangkan di sini khusus makanan manis. Kalau menjual frozen food di sini, risikonya lebih besar,” kata Ica.
Ica mengaku senang dengan ramainya aktivitas masyarakat di Pasar Dadakan Wedusan. Menurutnya, kehadiran pasar ini menjadi hiburan baru bagi warga desa, terlebih setelah jalan yang puluhan tahun rusak kini tampak lebih baik.
“Terus terang, saya merasa seru. Di sini ramai. Warga desa itu seperti haus hiburan. Setelah umur 40 tahun, baru sekarang saya melihat jalan ini sebagus ini,” ungkapnya.
Meski memberikan dampak positif bagi pedagang, keberlangsungan pasar tersebut masih menjadi perhatian. Para pelaku UMKM mengkhawatirkan aktivitas jual beli akan terganggu ketika musim hujan tiba.
Ica berharap pemerintah daerah dapat memberikan perhatian terhadap perkembangan Pasar Dadakan Wedusan. Menurutnya, dukungan pemerintah diperlukan agar kawasan tersebut terus berkembang dan memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat setempat.
“Pertanyaan semua pedagang, kalau musim hujan nanti pasar ini masih bisa berlanjut atau tidak. Semoga pemerintah daerah bisa mengambil langkah untuk memajukan desa ini,” pungkasnya.
Aktivitas di pasar dadakan Desa Wedusan biasanya mulai dibuka oleh para pedagang sejak pukul 13.00. Puncak keramaian terjadi pada pukul 15.00 hingga 17.00 WIB menjelang sore hari, terutama saat akhir pekan, hari Sabtu dan Minggu.
Data Badan Pusat Statisik (BPS), Desa Wedusan memiliki jumlah penduduk sekitar 3.815 jiwa dengan luas wilayah 9,20 km². Mayoritas penduduknya bekerja pada sektor pertanian, perkebunan, dan peternakan sapi potong.
Pada 2018 lalu, Desa Wedusan menjadi sasaran prioritas program TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) Kodim 0820 Probolinggo karena masuk kategori desa tertinggal.
Dalam dua tahun terakhir, Desa Wedusan berhasil keluar dari kategori desa tertinggal seiring peningkatan program pembangunan yang dilakukan pemerintah daerah, terutama di bidang infrastruktur jalan.***

























