banner 728x90
Opini

Hidup Mati Warga Desa Menyono Dilinting Bersama Tembakau

×

Hidup Mati Warga Desa Menyono Dilinting Bersama Tembakau

Sebarkan artikel ini
Penulis opini: Hidup Mati Warga Desa Menyono Dilinting Bersama Tembakau./ Foto: bolinggo.co

BOLINGGODOTCO,- Kalender dan jam bukan penentu hidup mati warga Desa Menyono, Kecamatan Kuripan, Kabupaten Probolinggo. Nasib mereka lebih sering ditentukan oleh daun tembakau yang dilinting, dijemur, dan ditunggu hasilnya.

Tembakau di sini bukan sekadar tanaman musiman, melainkan penyangga ekonomi keluarga yang kadang menyelamatkan, kadang pula menyeret mereka ke musim paceklik. Cuaca, nasib, dan permainan tengkulak menjadi lingkar ketergantungan yang sulit diputus.

Probolinggo dikenal sebagai salah satu penghasil tembakau Jawa. Namun di balik label itu, tersimpan cerita pilu dan ketidakpastian yang jarang terlihat.

Industri besar kerap mengesampingkan tembakau Jawa sehingga jarang tercatat dalam grafik keuntungan. Meski demikian, dari tembakau inilah desa-desa seperti Menyono mampu bertahan hidup.

Tembakau Menyono adalah varietas lokal tembakau Jawa yang tumbuh tanpa promosi, riset mahal, atau label industri. Ia jarang dibicarakan dalam seminar, tetapi akrab dalam keseharian masyarakat.

Tembakau ini banyak dikonsumsi untuk rokok linting tangan atau “tingwe”, ditemani kopi dan perenungan hidup yang sering kali tak sejalan dengan harapan.

Tingwe bukan sekadar pilihan ekonomis, melainkan praktik kultural. Di dalamnya ada ruang harap dan jeda dari tekanan hidup. Tembakau Menyono hidup di tengah keunggulan varietas lain, mungkin tak menyumbang devisa besar, tetapi memberi ketenangan bagi penggunanya.

Ia tak hadir di etalase iklan, melainkan di tangan-tangan kasar pekerja, kertas murah, dan waktu istirahat yang sederhana.

Bagi warga Menyono, menanam tembakau bukan soal gaya hidup. Mereka paham harga bisa anjlok, cuaca bisa berkhianat, dan pengepul kerap bermain harga. Namun tembakau tetap ditanam karena pilihan lain justru terasa lebih menyakitkan. Ini bukan soal keras kepala, melainkan keterpaksaan.

Baca Juga:  Pilkada Sumenep dan Godaan Asumsi Publik

Setiap musim tembakau selalu menghadirkan harap dan cemas sekaligus. Harap agar tembakau menyelamatkan ekonomi, dan cemas karena penyelamat itu tak selalu setia. Sekali gagal, satu musim hilang. Di desa, musim bukan hanya soal produksi, melainkan urusan perut, biaya sekolah anak, dan kebutuhan keluarga.

Di luar desa, tembakau kerap diagung-agungkan dalam diskusi kesehatan, cukai, dan regulasi. Semuanya terdengar penting dan bermartabat, tetapi sering berhenti di meja rapat.

Jarang ada yang turun ke lapangan melihat bagaimana tembakau menjadi harapan sekaligus kecemasan warga. Bahkan ketika kebijakan berubah, suara petani nyaris tak pernah ditanya.

Menariknya, tembakau Jawa termasuk Menyono tetap eksis di ranah lokal tanpa bergantung pada industri besar. Ia hidup dari skala kecil, diolah dengan ketelatenan, dan lahir dari keterbatasan ekonomi.

Di luar hiruk-pikuk kebijakan, di Menyono tembakau tetap ditanam karena telah menjadi bagian hidup, bukan sekadar komoditas.

Di Menyono, tembakau adalah siklus kehidupan. Dari menyiapkan lahan, menunggu hujan, menjemur daun, merajang, hingga menanti harga. Ketika tembakau gagal, yang runtuh bukan hanya daun, tetapi keyakinan bahwa kerja keras selalu berbuah hasil.

Selama tembakau menjadi satu-satunya sandaran, hidup mati warga Desa Menyono akan terus dilinting tipis seperti rokok tingwe perlahan, dengan harap tak putus di tengah jalan.***