PROBOLINGGO,- Kesadaran mengelola sampah terus didorong di lingkungan pesantren. DLH Kabupaten Probolinggo bersama komunitas Jenggala menggelar edukasi pengelolaan sampah melalui program Eco Pesantren di Pondok Pesantren Rofiatul Islam, Jumat (18/9/2026).
Edukasi tersebut diikuti para santri dengan materi seputar pentingnya mengurangi dan memilah sampah. Para santri diajak memahami bahwa sampah yang dihasilkan sehari-hari menjadi tanggung jawab bersama.
Perwakilan DLH Kabupaten Probolinggo, Wanti, JF Penyuluhan Lingkungan, mengatakan perubahan kebiasaan perlu dimulai dari kesadaran terhadap barang yang digunakan dan dikonsumsi setiap hari.
“Sampah yang kita hasilkan butuh waktu lama untuk terurai. Jangan sampai ketidakpedulian kita terhadap apa yang kita konsumsi menyumbang banyak polusi di bumi,” ujar Wanti.
Menurutnya, persoalan sampah tidak bisa hanya dibebankan kepada pemerintah maupun petugas kebersihan. Masyarakat perlu terlibat dengan membiasakan diri mengurangi dan memilah sampah sejak dari sumbernya.
Sementara itu, Founder Jenggala, Ning Hani, menyebut edukasi lingkungan di pesantren menjadi bagian dari upaya memperluas kepedulian masyarakat terhadap persoalan sampah.
“Perlu adanya dukungan dari semua pihak pesantren untuk membangun kebiasaan peduli terhadap lingkungan,” kata Ning Hani.
Ia menilai pesantren memiliki peran penting karena menjadi tempat belajar sekaligus ruang hidup bersama. Kebiasaan menjaga lingkungan yang dibangun di pesantren diharapkan dapat diterapkan para santri di luar lingkungan pondok.
Dukungan juga datang dari keluarga pengasuh Pondok Pesantren Rofiatul Islam. Neng Elok Faiqoh menyampaikan komitmennya untuk mendorong kebiasaan yang lebih ramah lingkungan di lingkungan pesantren.
Sejumlah aturan internal telah diterapkan untuk mengurangi penggunaan sampah sekali pakai. Salah satunya dengan tidak menggunakan kertas minyak sebagai pembungkus makanan santri.
Pesantren juga membatasi penjualan makanan ringan dengan kemasan plastik di koperasi. Santri yang hendak pulang turut diminta menyetorkan sampah plastik yang dimilikinya kepada pihak pesantren.
Langkah tersebut menjadi contoh bahwa edukasi sampah dapat diterapkan melalui kebiasaan sederhana. Dengan demikian, kepedulian terhadap lingkungan tidak hanya berhenti pada materi yang disampaikan.
Melalui program Eco Pesantren, DLH Kabupaten Probolinggo bersama Jenggala berharap kesadaran mengelola sampah semakin tumbuh di kalangan santri. Kebiasaan tersebut diharapkan turut dibawa ke keluarga dan lingkungan masyarakat.
Pengelolaan sampah tidak hanya berkaitan dengan membuang sampah pada tempatnya. Lebih dari itu, masyarakat juga perlu mempertimbangkan barang yang dikonsumsi, mengurangi produk sekali pakai, dan bertanggung jawab atas sampah yang dihasilkan.***















