banner 728x90
Daerah

Buka Wawasan hingga Asah Kreativitas, Festival Literasi 2.0 Hadir di Probolinggo

×

Buka Wawasan hingga Asah Kreativitas, Festival Literasi 2.0 Hadir di Probolinggo

Sebarkan artikel ini
Festival Literasi 2.0 yang digelar Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispersip) Kabupaten Probolinggo di Kantor Dispersip./ Foto: Istimewa

PROBOLINGGO,- Budaya membaca terus didorong di tengah masyarakat Kabupaten Probolinggo. Upaya tersebut salah satunya dilakukan melalui Festival Literasi 2.0 yang digelar Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispersip) Kabupaten Probolinggo, Selasa (22/9/2026).

Bunda Literasi Kabupaten Probolinggo, Ning Marisa Juwitasari, mengatakan membaca memiliki banyak manfaat bagi masyarakat, khususnya anak-anak dan generasi muda.

“Dari membaca kita bisa mendapatkan banyak pengetahuan, membuka wawasan dan kemudian mengembangkan kreativitas. Oleh karena itu, budaya membaca harus terus kita tumbuhkan, terutama kepada anak-anak dan generasi muda,” ujarnya.

Menurutnya, literasi tidak hanya berkaitan dengan kemampuan memperoleh informasi dari buku. Kebiasaan membaca juga menjadi bekal penting bagi generasi muda dalam menghadapi perubahan zaman.

“Membaca bukan hanya tentang menambah pengetahuan, tetapi juga menjadi salah satu bekal bagi generasi muda untuk menghadapi perubahan dan perkembangan zaman,” katanya.

Sementara itu, Kepala Dispersip Kabupaten Probolinggo Ulfiningtyas menyampaikan Festival Literasi 2.0 menjadi salah satu upaya menghadirkan kegiatan literasi yang lebih dekat dengan masyarakat.

“Festival Literasi 2.0 ini kami hadirkan sebagai ruang bersama untuk menggerakkan budaya membaca sekaligus memberikan ruang kepada masyarakat untuk berkreativitas,” jelasnya.

Ia menambahkan, literasi perlu dikemas dengan cara yang menarik agar dapat diterima oleh berbagai kalangan. Karena itu, kegiatan literasi tidak hanya berpusat pada aktivitas membaca buku.

“Kami ingin literasi hadir lebih dekat dengan masyarakat, tidak hanya melalui buku, tetapi juga melalui kegiatan yang edukatif, kreatif dan menyenangkan,” ungkap Ulfiningtyas.

Dispersip berharap semangat yang dibangun melalui Festival Literasi 2.0 dapat terus berlanjut setelah kegiatan berakhir. Budaya membaca diharapkan tumbuh menjadi kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari.

“Harapan kami, apa yang dilakukan hari ini tidak berhenti setelah festival selesai. Budaya membaca harus terus dilanjutkan dan menjadi kebiasaan. Perpustakaan juga harus terus hadir sebagai ruang belajar, berkarya dan berinteraksi dengan masyarakat,” pungkasnya.***