PROBOLINGGO,- Ribuan warga memadati halaman TITD Sumber Naga saat pembukaan China Town (Pecinan), Sabtu malam (16/5/2026). Kawasan ini resmi menjadi destinasi wisata budaya dan kuliner baru di Kota Probolinggo.
Suasana meriah langsung terasa sejak awal acara. Berbagai tenan UMKM menyajikan aneka kuliner, sementara pertunjukan seni budaya tampil menghibur masyarakat yang hadir.
Ketua II TITD Sumber Naga sekaligus panitia kegiatan, Erfan Sutjianto mengatakan, China Town sengaja dikemas berbeda dengan menghadirkan kolaborasi budaya lokal dan Tionghoa.
“Kami menggandeng hiburan lokal daerah seperti Tari Jaranan, campursari, hingga wayang yang nantinya akan mengisi China Town ini. Jadi tidak hanya budaya Tionghoa saja yang ditampilkan,” katanya.
Menurut Erfan, kegiatan tersebut menjadi simbol kuatnya toleransi antarumat beragama di Kota Probolinggo. Ia ingin China Town menjadi ruang kebersamaan bagi seluruh masyarakat tanpa memandang latar belakang.
“Kalau biasanya Pecinan identik hanya dengan budaya Tionghoa, kami tidak ingin seperti itu. Saya tidak mau ada kesan bahwa ini hanya acara orang Kelenteng, justru kami ingin menumbuhkan dan memupuk rasa toleransi antarumat beragama yang selama ini sangat kuat dan kental di Kota Probolinggo,” ujarnya.
Ia menegaskan, seluruh elemen masyarakat dilibatkan dalam kegiatan tersebut agar tercipta suasana harmonis dan penuh keguyuban.
“Ada Islam, Kristen, Hindu dan lainnya. Semua berkumpul dan berkolaborasi bersama dalam keharmonisan dan keguyuban. Inilah yang ingin kami ciptakan agar Kota Probolinggo selalu rukun dan damai membaur jadi satu,” tambahnya.
Wali Kota Probolinggo Aminuddin turut mengapresiasi hadirnya China Town sebagai destinasi hiburan sekaligus wisata budaya baru di kota setempat.
“Kami sangat mengapresiasi inisiatif dari pengurus TITD Sumber Naga dan seluruh pihak yang terlibat. China Town ini menjadi destinasi hiburan baru bagi masyarakat Kota Probolinggo sekaligus wadah mempererat persatuan dalam keberagaman,” tuturnya.
Selain menjadi ruang hiburan masyarakat, kegiatan tersebut juga diyakini mampu menggerakkan perekonomian warga melalui sektor UMKM dan pariwisata.
“Dengan adanya kegiatan seperti ini, tentu roda perekonomian masyarakat juga akan bergerak dan meningkat. Kami berharap kegiatan ini terus berkembang dan menjadi daya tarik wisata budaya di Kota Probolinggo,” pungkasnya.***













