PROBOLINGGO,- Pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kota Probolinggo terus mendapat pengawasan. Tim Satgas MBG melakukan peninjauan ke sejumlah sekolah dan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
Peninjauan tersebut dilakukan untuk memastikan program berjalan secara transparan. Selain itu, tim juga mengecek kualitas menu dan pemenuhan standar gizi bagi para penerima manfaat.
Anggota Tim Teknis Supervisi dan Penerbitan Sertifikat Laik Higiene Sanitasi pada SPPG Tahun 2026, drg Lilik Luluk Muyassaroh, mengatakan pihaknya juga mengecek sejumlah instruksi dari Badan Gizi Nasional (BGN).
“Kami ingin mengetahui sejauh mana pelaksanaan instruksi dari Kepala BGN bahwa di ompreng harus ada pelabelan, kemudian apakah sudah diunggah di sistem radar BGN,” ujarnya, Jumat (4/9/2026).
Menurut Lilik, pengecekan juga dilakukan dengan membandingkan menu yang diberikan di SPPG dengan makanan yang diterima siswa di sekolah. Salah satunya terkait variasi menu dan kesesuaian gramasi.
“Kami sekaligus kroscek di sekolah dan SPPG bagaimana variasi menu sesuai gramasi besar kecilnya,” katanya.
Ia menyebut penyusunan menu juga mempertimbangkan selera anak-anak. Namun, rasa dan minat siswa tetap harus berjalan seimbang dengan ketentuan anggaran.
“Kami berusaha membuat menu yang diminati anak-anak, rasanya enak tapi tidak boleh minus anggaran,” jelasnya.
Lilik juga membuka ruang bagi penerima manfaat untuk memberikan masukan terkait menu MBG. Setiap saran, kata dia, akan menjadi bahan evaluasi untuk memperbaiki kekurangan.
“Saya menerima saran dari penerima manfaat, akan kami perbaiki kekurangan-kekurangannya,” tuturnya.
Ia berharap evaluasi dilakukan bersama-sama agar pelaksanaan MBG ke depan semakin baik. Menurutnya, laporan dari penerima manfaat justru menunjukkan adanya kepedulian terhadap program tersebut.
“Harapannya, sama-sama diperbaiki supaya tidak menerima banyak laporan. Laporan ini artinya penerima manfaat masih peduli dengan menu dan program yang baik ini,” ungkapnya.
Selain mengecek makanan, tim juga meminta pihak sekolah ikut memberikan pemahaman kepada siswa mengenai konsep gizi seimbang. Edukasi tersebut dinilai penting agar anak-anak memahami kandungan makanan yang mereka konsumsi.
Tim mengingatkan bahwa pedoman gizi saat ini tidak lagi menggunakan konsep 4 Sehat 5 Sempurna. Masyarakat kini diarahkan pada konsep Isi Piringku yang menjadi pedoman gizi seimbang dari Kementerian Kesehatan.
Dalam setiap ompreng MBG, makanan juga telah disesuaikan dengan gramasi yang ditentukan. Komposisi tersebut diharapkan memenuhi kebutuhan gizi anak sesuai prinsip Isi Piringku.
Dengan pengawasan yang dilakukan secara berkala, pelaksanaan MBG di Kota Probolinggo diharapkan semakin terukur. Program tersebut juga diharapkan mampu memberikan makanan yang tidak hanya disukai anak, tetapi tetap memenuhi standar gizi.***















