banner 728x90
Ragam

Angin Gending di Bulan Juli, Cuaca Probolinggo Dingin Menusuk Tulang

×

Angin Gending di Bulan Juli, Cuaca Probolinggo Dingin Menusuk Tulang

Sebarkan artikel ini
Oleh: Muhammad Ibrohim Zidni./ Foto: bolinggo.co

PROBOLINGGO,- Memasuki bulan Juli, warga Probolinggo mulai merasakan perubahan cuaca yang cukup ekstrem. Siang hari terasa panas terik. Namun saat sore hingga malam, suhu bisa berubah lebih dingin secara tiba-tiba.

Fenomena ini dipicu oleh Angin Gending. Angin lokal khas Probolinggo yang sering muncul saat musim kemarau. Kehadirannya membawa perubahan suhu yang cukup signifikan.

Angin Gending terbentuk dari perbedaan suhu antara pegunungan dan dataran rendah. Udara dingin dari atas turun ke bawah. Dalam prosesnya, udara menjadi panas dan kering.

Di bulan Juli, kondisi ini semakin terasa. Intensitas panas meningkat. Kelembapan udara menurun. Angin pun bertiup lebih kencang dari biasanya.

Kecepatan Angin Gending bisa mencapai 20 hingga 30 knot. Atau sekitar 17 sampai 31 kilometer per jam. Dalam kondisi tertentu, hembusannya bahkan bisa lebih kuat.

Nama “Gending” berasal dari Kecamatan Gending. Wilayah ini menjadi jalur utama pertemuan angin. Sekaligus pintu masuk fenomena tersebut ke kawasan Probolinggo.

Dampaknya mulai dirasakan di berbagai sektor. Pertanian menjadi salah satu yang paling terdampak. Tanaman cepat mengering. Tanah menjadi retak dan kehilangan air.

Selain itu, angin kencang juga meningkatkan risiko bencana. Pohon-pohon rawan tumbang. Terutama saat hembusan datang secara tiba-tiba.

Dari sisi kesehatan, kondisi ini juga perlu diwaspadai. Debu mudah beterbangan. Warga rentan mengalami gangguan pernapasan. Seperti batuk dan iritasi.

Nelayan juga harus berhati-hati. Angin kencang dapat memicu gelombang tinggi. Laut menjadi lebih berisiko untuk aktivitas melaut.

Secara ilmiah, Angin Gending termasuk jenis angin fohn. Fenomena angin panas dan kering yang turun dari pegunungan. Meski terjadi di berbagai daerah, karakter di Probolinggo tergolong khas.

Bagi masyarakat lokal, Angin Gending bukan hal baru. Namun di bulan Juli, dampaknya terasa lebih kuat. Aktivitas harian pun perlu penyesuaian.

Petani mulai mengatur pola tanam. Nelayan lebih selektif menentukan waktu melaut. Warga juga lebih menjaga kondisi tubuh.

Meski membawa dampak negatif, angin ini juga memberi pelajaran. Tentang pentingnya memahami alam. Serta kemampuan beradaptasi dengan perubahan cuaca.

Angin Gending di bulan Juli menjadi pengingat. Bahwa dinamika alam selalu hadir. Dan kesiapsiagaan adalah kunci utama menghadapinya.***

*) Penulis: Ibrohim Zidni adalah alumni UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Prodi Komunikasi Penyiaran Islam (KPI).

*) Ia juga merupan Jurnalis di media online SerikatNews.com

*) Tulisan ini sepenuhnya tanggungjawab penulis dan tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi bolinggo.co.