banner 728x90
NasionalUMKM

Harga Plastik Melonjak, Pemerintah Siapkan Strategi Selamatkan UMKM

×

Harga Plastik Melonjak, Pemerintah Siapkan Strategi Selamatkan UMKM

Sebarkan artikel ini
Menteri UMKM, Maman Abdurrahman./ Foto: Kementerian UMKM

JAKARTA,- Pemerintah menyiapkan langkah cepat menghadapi lonjakan harga plastik. Kondisi ini mulai menekan pelaku UMKM, khususnya sektor makanan dan minuman.

Menteri UMKM, Maman Abdurrahman, menyebut ketergantungan impor bahan baku plastik Indonesia masih tinggi. Saat ini angkanya mencapai 55 persen.

“Ketergantungan kita terhadap impor bahan baku plastik masih cukup besar,” ujarnya dalam keterangan resmi, dikutip Sabtu (11/4/2026).

Ia menjelaskan, sekitar 70 persen distribusi nafta melewati Selat Hormuz. Kawasan tersebut kini terdampak konflik geopolitik global.

“Situasi di Selat Hormuz sangat berpengaruh terhadap rantai pasok dan harga plastik di dalam negeri,” katanya.

Sebagai langkah cepat, pemerintah membuka alternatif pasokan baru. Sumber bahan baku diarahkan ke kawasan yang lebih stabil.

“Untuk jangka pendek, kita membuka alternatif pasokan dari Afrika, India, dan Amerika,” jelasnya.

Proses administrasi impor kini tengah disiapkan. Pemerintah ingin distribusi bahan baku tetap berjalan tanpa hambatan.

“Administrasi sedang kita percepat agar pasokan tetap terjaga,” tambah Maman.

Di sisi lain, kondisi ini menjadi momentum evaluasi. Pemerintah ingin mengurangi ketergantungan pada wilayah berisiko tinggi.

“Ini saat yang tepat untuk memperkuat ketahanan industri nasional,” tegasnya.

Selain itu, transformasi menuju bahan baku alternatif mulai didorong. Fokusnya pada material ramah lingkungan berbasis lokal.

Bambu, rumput laut, dan singkong dinilai memiliki potensi besar. Ketiganya bisa diolah menjadi bioplastik.

“Ini bukan hanya solusi krisis, tapi peluang membangun industri hijau berbasis potensi lokal,” kata Maman.

Namun, ia mengakui tantangan masih ada. Salah satunya terkait biaya produksi yang relatif tinggi.

“Pasar yang masih terbatas membuat biaya produksi bioplastik belum efisien,” ungkapnya.

Pemerintah optimistis kondisi ini bisa berubah. Dengan kebijakan yang tepat, permintaan diyakini akan meningkat.

“Jika permintaan tumbuh, biaya produksi bisa ditekan,” jelasnya.

Saat ini, sejumlah pelaku UMKM sudah mulai berinovasi. Bahkan, produk berbasis rumput laut telah menembus pasar ekspor.

“Ini bukti bahwa produk kita punya daya saing,” ujarnya.

Pemerintah pun berkomitmen memperkuat dukungan. Tujuannya meningkatkan kapasitas produksi dalam negeri.

“Dukungan akan kita dorong agar skala produksi semakin besar,” tegas Maman.

Sejumlah kebijakan juga tengah dikaji. Mulai dari subsidi bioplastik hingga penguatan rumah kemasan bersama.

Selain itu, pelatihan dan pendampingan terus disiapkan. Langkah ini untuk mendorong UMKM lebih adaptif.

Di sisi lain, masyarakat juga diminta berperan aktif. Pengurangan penggunaan plastik menjadi kunci.

“Kami mengajak masyarakat untuk mengurangi plastik dan meningkatkan daur ulang,” pungkasnya.

Upaya ini diharapkan mampu menjaga lingkungan. Sekaligus mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor bahan baku plastik.***