BOLINGGODOTCO,- Bagi banyak orang, Probolinggo hari ini terlihat sebagai daerah yang sudah “jadi”. Kota dan kabupatennya berjalan, pemerintahannya tertata, dan kehidupan warganya bergerak dari pasar hingga pelabuhan, dari sawah sampai pusat kota.
Di balik wajah modern itu, tersimpan cerita lama yang jarang dibicarakan. Probolinggo pernah menjadi bagian dari Karesidenan Besuki, sebuah struktur pemerintahan kolonial yang kini nyaris terlupakan, meski jejaknya masih terasa hingga hari ini.
Karesidenan Besuki dan Jejak Kolonial
Pada masa Hindia Belanda, Karesidenan Besuki merupakan wilayah yang cukup penting di kawasan Tapal Kuda, Jawa Timur. Wilayahnya mencakup mulai dari Besuki, Situbondo, Bondowoso, Jember, Banyuwangi, hingga Probolinggo.
Kawasan ini dipimpin seorang residen yang mengurus pemerintahan, ekonomi, hingga keamanan. Dari posisinya itulah kebijakan kolonial dijalankan, menjadikan karesidenan pusat kendali wilayah.
Alasan Probolinggo Masuk Besuki
Masuknya Probolinggo ke dalam Karesidenan Besuki bukan tanpa alasan. Letaknya yang berada di jalur pesisir utara Jawa Timur membuat wilayah ini strategis, terutama untuk urusan perdagangan dan distribusi hasil pertanian.
Pelabuhan, jalur darat dan laut, serta kawasan perkebunan membuat Probolinggo bernilai penting bagi ekonomi kolonial. Karena itulah wilayah ini dimasukkan dalam satu kesatuan administratif Besuki dan sekitarnya.
Kehidupan di Bawah Sistem Karesidenan
Sistem karesidenan bukan sekadar garis di peta. Ia langsung memengaruhi kehidupan warga hingga ke desa, lewat kebijakan pajak, tanah, dan tenaga kerja yang dijalankan secara ketat.
Masyarakat Probolinggo hidup di bawah pengawasan kolonial yang ketat. Ruang gerak mereka sempit, sementara kebijakan lebih berpihak pada kepentingan kolonial ketimbang kebutuhan rakyat.
Langgar dan Mushola sebagai Ruang Bertahan
Di tengah tekanan tersebut, masyarakat tidak kehilangan cara untuk bertahan. Justru dari keterbatasan itulah lahir ruang-ruang sosial yang penting bagi kehidupan bersama.
Langgar, mushola, dan pesantren tumbuh sebagai tempat belajar dan mengaji. Lebih dari sekadar ruang ibadah, tempat-tempat ini menguatkan karakter, moral, dan solidaritas sosial warga.
Sayangnya, sejarah administratif seperti Probolinggo dalam Karesidenan Besuki sering dianggap tidak menarik untuk dibicarakan. Ia dipandang terlalu teknis atau terlalu jauh dari kehidupan hari ini.
Padahal, dari sejarah inilah kita bisa memahami bahwa identitas daerah tidak muncul begitu saja. Ia terbentuk lewat proses panjang yang melibatkan kekuasaan, ekonomi, dan dinamika sosial masyarakatnya.
Setelah Karesidenan Berakhir
Setelah Indonesia merdeka, sistem karesidenan perlahan ditinggalkan. Probolinggo kemudian berkembang menjadi wilayah administratif yang berdiri sendiri dan terus menyesuaikan diri dengan perubahan zaman.
Mengulas kembali Probolinggo sebagai bagian dari Karesidenan Besuki bukan untuk mengagungkan masa kolonial. Ini adalah cara untuk memahami perjalanan daerah secara lebih utuh danmelihat bahwa masa depan tidak dibangun dari ruang kosong.***















