banner 728x90
Daerah

Perempuan Lintas Agama di Probolinggo Serukan Gerakan Hadapi Krisis Iklim

×

Perempuan Lintas Agama di Probolinggo Serukan Gerakan Hadapi Krisis Iklim

Sebarkan artikel ini
Gabungan Organisasi Wanita (GOW) Kabupaten Probolinggo melalui sarasehan lintas agama./ Foto: bolinggo.co

PROBOLINGGO,- Persoalan krisis iklim mulai dirasakan semakin nyata oleh masyarakat Kabupaten Probolinggo. Kondisi tersebut mendorong perempuan dari berbagai organisasi dan latar belakang agama untuk bersama-sama menyuarakan kepedulian terhadap lingkungan.

Upaya itu dilakukan Gabungan Organisasi Wanita (GOW) Kabupaten Probolinggo melalui sarasehan lintas agama yang digelar di Ruang Madakaripura, Gedung Pemerintah Kabupaten Probolinggo, Senin (28/9/2026).

Kegiatan tersebut menjadi ruang bertukar pandangan mengenai ekofeminisme dan nilai-nilai keagamaan dalam menghadapi persoalan lingkungan. Forum ini juga diarahkan untuk merumuskan rekomendasi perempuan Probolinggo kepada pemerintah daerah.

Ketua GOW Kabupaten Probolinggo, Ning Umi Haniah, menekankan pentingnya kepedulian terhadap lingkungan dimulai dari lingkungan keluarga dan masyarakat. Menurutnya, persoalan ekologis perlu mendapat perhatian bersama dan diwujudkan melalui tindakan nyata.

Direktur Yayasan Ekosistem Sampah Indonesia (YESI), Aak Abdullah Al-Kudus, turut menyoroti pentingnya meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap perubahan iklim. Ancaman ekologis, kata dia, tidak hanya menjadi persoalan global, tetapi juga berdampak langsung di tingkat daerah.

Dalam sarasehan tersebut, isu lingkungan juga dibahas melalui perspektif ekofeminisme. Pendekatan ini melihat keterkaitan antara persoalan lingkungan dengan kondisi sosial perempuan yang dalam sejumlah situasi ikut merasakan dampak lebih besar.

Pakar dan praktisi ekofeminisme, Zaimatus Sadiyah, menyampaikan bahwa persoalan pencemaran lingkungan tidak cukup dipandang sebagai masalah kebersihan. Menurutnya, diperlukan kesadaran bersama untuk melihat persoalan ekologis secara lebih luas.

Sarasehan juga menghadirkan sejumlah tokoh perempuan lintas agama. Di antaranya Sr. Yosephine HK dari Gereja Paroki St. Paulus Kraksaan, Josephine Akristiana S. dari Gereja GKWJ Kraksaan, serta Astika Widya A. selaku Ketua WHDI Kabupaten Probolinggo.

Keterlibatan perempuan dari berbagai keyakinan menjadi bagian penting dalam membangun gerakan peduli lingkungan secara bersama. Nilai-nilai keagamaan dinilai dapat menjadi salah satu kekuatan untuk mendorong kepedulian terhadap kelestarian alam.

GOW Kabupaten Probolinggo selanjutnya mendorong adanya deklarasi bersama sebagai bentuk komitmen perempuan dalam menghadapi persoalan ekologis. Deklarasi tersebut diharapkan dapat menjadi pijakan untuk memperluas gerakan peduli lingkungan hingga tingkat masyarakat.

Selain gerakan di tengah masyarakat, hasil sarasehan juga diharapkan melahirkan rekomendasi bagi pemerintah daerah. Rekomendasi tersebut berkaitan dengan upaya membangun kebijakan lingkungan yang berkelanjutan dan memperhatikan kebutuhan masyarakat.***