banner 728x90
Berita

7 Tokoh Berebut Kursi Ketum PBNU, Siapa Paling Berpeluang di Muktamar ke-35?

×

7 Tokoh Berebut Kursi Ketum PBNU, Siapa Paling Berpeluang di Muktamar ke-35?

Sebarkan artikel ini
Bursa calon Ketua Umum PBNU di Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) ke-35.

JOMBANG,- Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) ke-35 menjadi salah satu momentum penting bagi organisasi terbesar di Indonesia tersebut. Sejumlah nama mulai mencuat dalam bursa calon Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU).

Sedikitnya terdapat tujuh tokoh yang disebut memiliki peluang untuk bersaing. Mereka datang dari berbagai latar belakang, mulai dari ulama pesantren, pengurus NU, hingga birokrat.

Berikut tujuh tokoh yang masuk dalam bursa calon Ketua Umum PBNU dengan corak gagasan dan basis dukungan yang berbeda.

1. KH Yahya Cholil Staquf

KH Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya lahir pada 16 Februari 1966. Ia merupakan Ketua Umum PBNU petahana.

Gus Yahya secara resmi menyatakan niat untuk kembali memimpin PBNU pada 22 Juli 2026. Ia membawa gagasan keberlanjutan organisasi dengan penekanan pada kemandirian NU.

Visinya bertumpu pada gagasan “Merawat Jagat, Membangun Peradaban”. Selain itu, ia mendorong penguatan posisi NU dalam diplomasi global dan upaya penyelesaian konflik internasional.

2. Prof. KH Nasaruddin Umar

Nama berikutnya adalah Prof. KH Nasaruddin Umar. Tokoh yang lahir pada 23 Juni 1959 ini saat ini menjabat sebagai Menteri Agama RI.

Nasaruddin Umar dikenal memiliki pengalaman panjang di bidang keulamaan dan birokrasi. Ia juga merupakan Imam Besar Masjid Istiqlal.

Gagasannya banyak menonjolkan narasi harmoni dan persatuan umat. Dukungan dari sejumlah cabang NU di luar Jawa juga membuat namanya dipandang membawa semangat desentralisasi kepemimpinan.

3. KH Abdul Hakim Mahfudz

Dari lingkungan pesantren, muncul nama KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin. Ia lahir pada 17 Agustus 1958 dan merupakan Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang.

Gus Kikin merepresentasikan salah satu pusat sejarah penting NU. Nama Tebuireng menjadi kekuatan tersendiri dalam peta kepemimpinan organisasi.

Ia dinilai membawa karakter pesantren tradisional dengan kuat. Otoritas keilmuan dan sejarah Tebuireng membuat sosoknya cukup diperhitungkan.

4. KH Muhammad Yusuf Chudlori

KH Muhammad Yusuf Chudlori atau Gus Yusuf juga masuk dalam bursa. Ia merupakan Pengasuh Pondok Pesantren API Tegalrejo.

Gus Yusuf disebut telah menyatakan kesiapan maju setelah mendapatkan dukungan dari 23 PCNU di Jawa Tengah.

Ia banyak menyerap aspirasi dari kalangan akar rumput. Isu kesejahteraan warga NU, ekonomi, serta dakwah kultural menjadi bagian dari gagasan yang dibawanya.

5. KH Abdul Ghaffar Rozin

Nama lainnya adalah KH Abdul Ghaffar Rozin atau Gus Rozin. Ia menyatakan kesiapan maju dalam forum silaturahim ketua PCNU se-Jawa Tengah pada pertengahan Juli 2026.

Gus Rozin menawarkan perhatian besar pada sektor pendidikan. Ia mendorong paradigma pendidikan yang lebih adaptif terhadap perkembangan zaman.

Gagasannya berupaya mempertemukan tradisi keilmuan pesantren dengan kebutuhan akademis dan profesionalitas modern.

6. KH Zulfa Mustofa

Dari kelompok regenerasi, muncul nama KH Zulfa Mustofa. Ia lahir pada 7 Agustus 1977 dan saat ini menjabat sebagai Wakil Ketua Umum PBNU.

KH Zulfa dikenal dengan kemampuan menciptakan syair-syair berbahasa Arab secara spontan. Ia juga memiliki basis keilmuan fikih yang kuat.

Dalam bursa calon ketua umum, ia menawarkan perpaduan antara khazanah keilmuan klasik dan tata kelola organisasi yang lebih dinamis.

7. KH Abdussalam Shohib

Tokoh terakhir adalah KH Abdussalam Shohib atau Gus Salam. Ia merupakan Pengasuh Pondok Pesantren Tambakberas, Jombang.

Gus Salam yang kini berusia 49 tahun dikenal cukup aktif menyuarakan pentingnya keseimbangan dalam pengelolaan organisasi.

Ia mendorong adanya mekanisme check and balance di internal NU. Menurut gagasan yang dibawanya, NU perlu tetap berpijak pada prinsip keadilan dan kemaslahatan umat, terutama bagi warga Nahdliyin.

Tujuh Nama, Beragam Gagasan

Munculnya tujuh nama tersebut menunjukkan bahwa bursa Ketua Umum PBNU memiliki spektrum gagasan yang cukup beragam.

Ada yang menawarkan kesinambungan kepemimpinan, penguatan pesantren, pembaruan pendidikan, hingga regenerasi organisasi. Persaingan dalam Muktamar NU ke-35 pun diperkirakan tidak hanya berkaitan dengan figur, tetapi juga arah NU pada masa mendatang.***