JAKARTA,- Pemerintah terus memperkuat langkah mitigasi menghadapi fenomena El Nino 2026 yang kini telah berstatus kuat. Upaya tersebut dilakukan melalui koordinasi lintas kementerian dan lembaga untuk meminimalkan dampaknya terhadap berbagai sektor.
Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, mengatakan persiapan pemerintah telah dimulai sejak Maret 2026. Langkah itu merupakan tindak lanjut dari arahan Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Bappenas dalam sejumlah rapat koordinasi.
Menurut Teuku, kesiapsiagaan pemerintah bukan baru dilakukan setelah rapat terbatas yang dipimpin Presiden Prabowo Subianto. Berbagai langkah antisipasi telah disusun dan dijalankan sejak beberapa bulan sebelumnya.
“Persiapan kita bukan dimulai sejak ratas minggu lalu yang dipimpin oleh Bapak Presiden Prabowo Subianto. Itu adalah kelanjutan dari koordinasi yang telah dilaksanakan sejak berbulan-bulan yang lalu,” kata Teuku dikutip, Kamis (6/5/2026).
BMKG mulai melakukan antisipasi setelah merilis prediksi pada pertengahan Maret 2026 yang menyebut Indonesia akan menghadapi musim kemarau bersamaan dengan El Nino berkategori moderat.
Sebagai langkah awal, BMKG menggelar apel kesiapsiagaan di Riau, Sumatra Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan. Kegiatan tersebut difokuskan untuk mengantisipasi potensi kebakaran hutan dan lahan.
Koordinasi juga dilakukan bersama Kementerian Pekerjaan Umum, TNI, Polri, Kementerian Kehutanan, pemerintah daerah, serta berbagai pemangku kepentingan lainnya guna menghadapi ancaman kekeringan.
Teuku menegaskan, El Nino tidak hanya memengaruhi kondisi cuaca, tetapi juga berdampak terhadap berbagai sektor pembangunan nasional.
“El Nino bukan hanya fenomena iklim yang memengaruhi curah hujan, tetapi merupakan tantangan yang dapat berdampak pada berbagai sektor pembangunan,” ujarnya.
BMKG menjelaskan, El Nino merupakan fenomena iklim global yang ditandai dengan meningkatnya suhu permukaan laut di Samudra Pasifik ekuatorial bagian tengah hingga timur. Kondisi tersebut dapat menyebabkan penurunan curah hujan di Indonesia.
Hasil pemantauan terbaru menunjukkan El Nino kini telah berada pada kategori kuat. Rata-rata anomali suhu permukaan laut pada periode Mei hingga Juli 2026 tercatat mencapai sekitar +1,59 derajat Celsius dan berpotensi meningkat menjadi kategori sangat kuat.
“Berdasarkan hasil pemantauan BMKG, kondisi El Nino saat ini telah berada pada kategori kuat dan berpotensi menjadi sangat kuat,” jelas Teuku.
BMKG memperkirakan curah hujan pada Agustus hingga September 2026 berada pada kategori rendah hingga sangat rendah. Sementara memasuki pertengahan Oktober, sebagian besar wilayah Indonesia diprediksi mulai memasuki musim hujan.
Teuku juga mengingatkan bahwa El Nino dan musim kemarau merupakan dua fenomena yang berbeda. Namun, dampaknya akan lebih besar ketika El Nino terjadi bersamaan dengan musim kemarau.
“El Nino dengan kemarau adalah dua fenomena yang berbeda. Kita tetap akan mengalami musim hujan dan musim kemarau, tetapi yang perlu diwaspadai adalah ketika musim kemarau bertepatan dengan El Nino,” tegasnya.
BMKG menyebut wilayah selatan Indonesia, seperti Pulau Jawa, Bali, Nusa Tenggara, dan sebagian Sumatra bagian selatan diperkirakan mengalami musim kemarau yang lebih kering dan lebih panjang. Sebaliknya, pesisir barat Sumatra dan Kalimantan bagian utara masih berpotensi menerima hujan.
Selain berdampak pada sektor pertanian, El Nino juga diperkirakan memengaruhi ketersediaan sumber daya air, pengelolaan waduk, energi, kesehatan, kebakaran hutan dan lahan, kelautan, hingga aktivitas ekonomi masyarakat.
Karena itu, BMKG menilai penguatan koordinasi lintas sektor menjadi langkah penting untuk mempercepat mitigasi risiko serta menjaga ketahanan nasional selama menghadapi El Nino 2026.***















