PROBOLINGGO,- Masyarakat Suku Tengger memulai rangkaian sakral Yadnya Kasada 1948 Saka/2026 Masehi melalui ritual Mendak Tirta di kawasan Air Terjun Madakaripura, Desa Negororejo, Kecamatan Lumbang, Kabupaten Probolinggo.
Puluhan warga berjalan kaki menuju sumber mata air yang dianggap suci untuk mengambil tirta. Air tersebut akan digunakan dalam prosesi penyucian perlengkapan ibadah menjelang puncak Yadnya Kasada di Pura Luhur Poten, Lautan Pasir Gunung Bromo.
Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Kabupaten Probolinggo, Bambang Suprapto menjelaskan, air suci yang diambil berasal dari empat sumber mata air sakral. Seluruh tirta kemudian disatukan untuk digunakan dalam ritual penyucian perlengkapan upacara di Pura Luhur Poten.
“Air suci dari empat sumber mata air akan dikumpulkan menjadi satu dan dipakai untuk menyucikan perlengkapan ibadah sebelum puncak Yadnya Kasada,” ujarnya.
Menurut Bambang, pengambilan tirta dilakukan secara serentak oleh masyarakat Tengger di tiga wilayah. Warga Kabupaten Probolinggo mengambil tirta di Madakaripura, masyarakat Pasuruan di Widodaren, sedangkan warga Lumajang melaksanakannya di kawasan Ranu Pane.
Sementara itu, Camat Sukapura Nur Rachmat Sholeh mengatakan ritual Mendak Tirta memiliki makna spiritual dan budaya yang sangat penting bagi masyarakat Tengger.
“Tradisi ini merupakan warisan leluhur yang harus terus dijaga. Pemerintah akan mendukung upaya pelestariannya agar tetap diwariskan kepada generasi mendatang,” katanya.
Mendak Tirta menjadi penanda dimulainya seluruh rangkaian Yadnya Kasada. Upacara adat ini dilaksanakan sebagai bentuk rasa syukur kepada Sang Hyang Widhi Wasa sekaligus penghormatan terhadap pesan leluhur yang diwariskan secara turun-temurun.
Madakaripura dipilih sebagai lokasi ritual karena memiliki nilai sejarah yang kuat. Kawasan tersebut dipercaya sebagai tempat moksanya Patih Gajah Mada setelah menerima tanah perdikan dari Raja Hayam Wuruk sebagaimana tercatat dalam Kitab Negarakertagama.
Kepercayaan tersebut membuat sumber mata air di Madakaripura dianggap memiliki kesucian dan keberkahan, sehingga hingga kini tetap menjadi lokasi utama pelaksanaan ritual Mendak Tirta bagi masyarakat Tengger.***














