banner 728x90
Nasional

Waspada! BMKG Sebut Musim Kemarau Tahun Ini Berpotensi Lebih Kering

×

Waspada! BMKG Sebut Musim Kemarau Tahun Ini Berpotensi Lebih Kering

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi musim kemarau di Indonesia./ Foto: Istimewa

JAKARTA,- BMKG memperkirakan puncak musim kemarau tahun 2026 akan terjadi pada Agustus mendatang. Saat ini, sebagian besar wilayah masih berada pada fase peralihan dari musim huan menuju kemarau.

Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan mengatakan awal musim kemarau tidak berlangsung bersamaan di seluruh daerah. Beberapa wilayah diperkirakan lebih dulu memasuki puncak kemarau pada Juli, sedangkan sebagian lainnya baru terjadi September.

“Sebagian besar wilayah Indonesia diperkirakan mengalami puncak kemarau pada Agustus,” katanya dalam Podcast Temu Tamu BMKG di Jakarta, dikutip Kamis (7/5/2026).

Menurutnya, cuaca panas dan gerah yang mulai dirasakan masyarakat saat ini merupakan bagian dari masa pancaroba. Meski demikian, peningkatan suhu udara di Indonesia masih tergolong normal dan belum mencapai kategori ekstrem.

Ardhasena menegaskan karakter musim kemarau tahun ini lebih ditandai oleh kondisi kering dibanding lonjakan suhu tinggi. Situasi tersebut dinilai perlu diwaspadai karena dapat berdampak terhadap ketersediaan air bersih hingga sektor pertanian.

BMKG juga memastikan kemungkinan terjadinya gelombang panas atau heatwave di Indonesia masih rendah. Hal itu dipengaruhi kondisi geografis Indonesia yang didominasi wilayah perairan.

“Gelombang panas ekstrem biasanya terjadi di wilayah daratan luas seperti Asia Timur atau Afrika Utara. Indonesia berbeda karena sirkulasi udaranya lebih dinamis,” jelasnya.

Selain itu, BMKG mengungkap adanya potensi pengaruh fenomena El Niño terhadap musim kemarau tahun ini. Fenomena tersebut dapat memicu penurunan curah hujan di sejumlah wilayah Indonesia.

El Nino terjadi akibat perubahan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik yang menyebabkan pusat pembentukan awan berpindah ke Pasifik Tengah dan Timur. Dampaknya, wilayah Indonesia mengalami penurunan intensitas hujan.

Kondisi itu membuat musim kemarau menjadi lebih kering dibanding biasanya. Meski begitu, dampak El Nino di setiap negara tidak sama.

“Indonesia dan Australia cenderung lebih kering, sedangkan wilayah Amerika Latin justru mengalami peningkatan hujan,” ungkap Ardhasena.

BMKG pun mengimbau masyarakat dan pemerintah daerah mulai meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi musim kemarau, terutama dalam pengelolaan sumber daya air dan mitigasi potensi kekeringan.

Masyarakat juga diminta terus memantau perkembangan informasi cuaca dan iklim melalui kanal resmi BMKG agar dapat melakukan langkah antisipasi lebih dini.***