BOLINGGODOTCO,- Dalam kehidupan beragama, tak jarang umat Islam dihadapkan pada pilihan antara menunaikan ibadah umrah atau menunggu giliran berangkat haji. Keduanya merupakan bentuk ibadah mulia yang menjadi dambaan setiap seorang Muslim.
Namun, pertanyaan klasik sering muncul dari seseorang yang betanya “haruskah mendahulukan umrah yang dianggap sunnah, atau menunggu kesempatan berhaji yang wajib?.”
Melansir dari laman YouTube Agus Mujib. KH. Ahmad Bahauddin Nursalim atau dikenal akrab sebagai Gus Baha, memberikan pandangan menarik sekaligus menohok mengenai hal tersebut.
Menurutnya, anggapan bahwa umrah hanya bersifat sunnah perlu ditinjau ulang, karena tidak ada dalil yang secara tegas menyatakan demikian.
“Tidak ada dalil yang menyebutkan bahwa umrah itu sunnah. Umrah juga bisa berstatus wajib,” tegas Gus Baha dalam sebuah kajian yang menyinggung soal hukum mendahulukan umrah daripada haji.
Dalam gaya khasnya yang ringan namun dalam makna, Gus Baha menanggapi pertanyaan jamaah dengan humor dan renungan. Saat seseorang bertanya tentang pilihan antara umrah atau haji, beliau menjawab dengan nada guyon yang sarat makna.
“Kamu ini jenis orang saleh sungguhan atau setengah-setengah?” ucap Gus Baha dengan senyum-senyum.
Pertanyaan itu membuat jamaah tertawa, tetapi pesan di baliknya sangat serius. Menurut Gus Baha, jika seseorang memiliki kemampuan finansial, maka mendahulukan haji lebih utama, karena haji merupakan rukun Islam kelima dan hukumnya wajib bagi yang mampu.
Beliau menggambarkan, ada orang yang mengaku setengah saleh dan separuh pelit. Maka katanya, orang seperti itu pasti akan memilih haji, bukan umrah. Sebab, mendahulukan sunnah di atas kewajiban adalah bentuk kekeliruan berpikir.
“Tidak boleh uang 25 juta dipakai untuk taqdimussunnah alal-fardhi (mendahulukan sunnah daripada yang wajib),” kata Gus Baha.
Namun, yang menarik dari penjelasan beliau adalah keseimbangan antara ketaatan kepada syariat dan loyalitas terhadap kebijakan pemerintah.
Gus Baha menegaskan, bagi yang tinggal di Indonesia, daftar haji sesuai prosedur pemerintah adalah bentuk ketaatan yang juga bernilai ibadah.
“Kalau saya mondok di Makkah, saya akan makdubkan diri, artinya saya daftar haji dan menunggu sesuai aturan pemerintah, karena harus loyal pada negara. Tapi kalau saya punya uang, saya takdubkan (umrah lagi),” ujar beliau sambil tertawa.
Dari penjelasan tersebut, terlihat jelas bahwa Gus Baha tidak menolak umrah, tetapi menekankan prioritas dan keikhlasan niat. Bagi beliau, ibadah bukan soal perhitungan untung-rugi, melainkan bukti cinta kepada Allah SWT.
Gus Baha bahkan menertawakan orang yang menganggap rugi jika berhaji lebih dari sekali.
“Kalau ada yang bilang, ‘Rugi dong haji dua kali?’ Itu pelit berarti. Cinta Allah kok pakai perhitungan,” candanya disambut gelak tawa jamaah.
Pesan penting dari Gus Baha sederhana namun mendalam, jangan beribadah dengan mental perhitungan, tapi dengan semangat cinta. Jika Allah memberi rezeki dan kesempatan, baik untuk haji maupun umrah, maka lakukan dengan hati yang ikhlas.
Akhirnya, perdebatan soal mendahulukan umrah atau menunggu haji bukan sekadar soal hukum, tapi soal ketulusan hati dalam mencintai Allah. Sebab bagi beliau, orang yang benar-benar cinta, tidak pernah menghitung ibadahnya.***













