banner 728x90
Daerah

Gubernur Jatim Bangun JLKT dan Resmikan Air Bersih di Bromo

×

Gubernur Jatim Bangun JLKT dan Resmikan Air Bersih di Bromo

Sebarkan artikel ini
Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa resmi memulai pembangunan Jalur Lingkar Kaldera Tengger (JLKT) di kawasan Wisata Bromo./ Foto: bolinggo.co

PROBOLINGGO,- Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa resmi memulai pembangunan Jalur Lingkar Kaldera Tengger (JLKT) di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, Kabupaten Probolinggo, Senin (13/4/2026).

Groundbreaking dilakukan bersama Dirjen KSDAE Kemenhut Satyawan Pudyatmoko, Kepala BB TNBTS Rudijanta Tjahja Nugraha, serta jajaran Forkopimda Jawa Timur dan kepala daerah setempat.

Khofifah menyampaikan, JLKT menjadi langkah penting dalam penataan kawasan wisata Bromo. Jalur ini dirancang untuk mendistribusikan wisatawan agar tidak terpusat di satu titik.

“JLKT ini akan menjadi penghubung antar wilayah di sekitar kaldera Bromo sekaligus alternatif distribusi wisatawan,” ujar Khofifah.

Ia menegaskan, pemerataan kunjungan wisata diharapkan mampu mengurangi tekanan terhadap lingkungan. Dampaknya, kelestarian kawasan tetap terjaga.

“Dengan begitu, tekanan terhadap lingkungan bisa dikurangi dan manfaat ekonomi bisa dirasakan lebih merata oleh masyarakat,” tambahnya.

Menurutnya, pembangunan ini merupakan hasil sinergi antara pengelola TNBTS dan Kementerian Kehutanan. Tujuannya mengharmonisasikan kekuatan alam dengan nilai budaya lokal.

“Kita harmonisasikan dengan kekuatan adat Suku Tengger, sehingga rute-rute yang dibangun tetap menjaga nilai budaya,” jelasnya.

Khofifah menekankan bahwa JLKT bukan sekadar proyek infrastruktur. Ia menyebut proyek ini sebagai bagian dari penguatan ekosistem kawasan.

“Ini bukan hanya pembangunan jalan, tapi bagaimana menjaga daya dukung alam dan lingkungan tetap terjaga,” tegasnya.

Secara teknis, jalur ini memiliki panjang sekitar 13 kilometer dengan lebar 18 meter. Pembangunan juga dilengkapi fasilitas pendukung wisata.

Tercatat, akan dibangun tiga rest area dan empat kantong parkir. Selain itu, terdapat 9.725 patok pembatas serta 60 sumur resapan.

Khofifah juga memastikan jalur tidak akan diaspal. Kebijakan ini diambil untuk menjaga keseimbangan lingkungan.

“Kita tidak melakukan pengaspalan karena menjaga daya dukung alam dan lingkungan,” ungkapnya.

Selain jalur, Pemprov Jatim juga meresmikan sarana air bersih. Fasilitas ini ditujukan untuk meningkatkan kenyamanan wisatawan.

Tangki berkapasitas 12.000 liter disiapkan untuk melayani kawasan Watu Gede dan Cemoro Lawang. Kebutuhan air diperkirakan mencapai 11.000 liter per hari.

“Kita siapkan sumber airnya agar bisa memenuhi kebutuhan di rest area,” ujar Khofifah.

Ia menegaskan, pembangunan Bromo harus berpijak pada tiga pilar utama. Yakni pelestarian lingkungan, penguatan budaya, dan pemberdayaan ekonomi masyarakat.

“Kita ingin membangun Bromo dengan cara yang benar. Alamnya lestari, budayanya kuat, dan masyarakatnya sejahtera,” katanya.

Di akhir sambutan, Khofifah mengajak semua pihak ikut mengawal pembangunan. Ia optimistis JLKT akan menjadi wajah baru pengelolaan wisata Bromo.

“Semoga membawa manfaat sebesar-besarnya bagi masyarakat dan keberlanjutan kawasan,” pungkasnya.

Sementara itu, Dirjen KSDAE Kemenhut Satyawan Pudyatmoko menilai JLKT sebagai langkah strategis menjaga harmoni kawasan konservasi.

“JLKT ini bagaimana kita membangun harmoni dengan kekuatan adat dan budaya Suku Tengger,” ujarnya.

Ia menambahkan, proyek ini telah dirancang terintegrasi dengan pengembangan wisata dan UMKM.

“Desainnya terencana dengan baik, terintegrasi dengan UMKM, rest area, dan jalur wisata,” tutupnya.***