BOLINGGODOTCO,- Bagi setiap Muslim, Kota Madinah bukan sekadar sebuah destinasi dalam perjalanan haji atau umrah. Madinah juga kota penuh cinta, tempat di mana Rasulullah SAW hidup, berdakwah, dan dimakamkan.
Menginjak kaki di tanah suci ini seolah menghadirkan kembali kehangatan kasih sayang beliau, serta ketenangan yang sulit dijelaskan dengan kata-kata. Karena itulah, memasuki Madinah bukan hanya perjalanan fisik, melainkan juga perjalanan hati yang sarat makna spiritual.
Sebagaimana disebutkan oleh Imam al-Ghazali dalam Mukhtashar Ihya Ulumuddin. Ziarah ke Madinah termasuk bagian dari rangkaian ibadah haji dan umrah. Di kota inilah setiap langkah seakan menjadi saksi cinta umat kepada Nabinya. Rasulullah SAW bersabda:
مَنْ زَارَني بَعْدَ وَفَاتِي فَكَأَنَّمَا زَارَني فِي حَيَاتِي
“Barang siapa menziarahi aku sepeninggalanku nanti, seakan-akan ia menziarahi aku saat aku masih hidup.”
(HR. at-Thabrani dan ad-Daruquthni).
Hadis tersebut menggambarkan betapa mulianya amalan ziarah ke makam Rasulullah SAW. Bahkan dalam riwayat lain beliau pernah bersabda:
مَنْ وَجَدَ سَعَةً وَلَمْ يَزُرْنِي فَقَدْ جَفَانِي
“Barang siapa memiliki kemampuan namun tidak menziarahiku, berarti ia telah menjauh dariku.”
(HR. at-Thabrani).
Begitu besar nilai spiritual ziarah ke Madinah, sehingga Rasulullah menegaskan bahwa mendatanginya adalah bentuk cinta dan penghormatan kepada beliau. Karena itu, para ulama menganjurkan agar seorang Muslim menjaga adab dan kesucian niat ketika hendak memasukinya.
Sebelum tiba di Kota Madinah, jamaah disunnahkan untuk berhenti sejenak, berwudu, lalu mandi di sumur al-Harrah. Setelah itu mengenakan pakaian yang bersih, memakai wewangian, dan menyiapkan hati dengan penuh kerendahan. Saat memasuki kota ini, disunnahkan mengucap:
بِسْمِ اللهِ وَعَلَى مِلَّةِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
Bismillahi wa ‘ala millati rasulillahi wa sallam
Artinya: “Dengan nama Allah dan atas agama yang dibawa oleh Rasulullah SAW.”
Doa ini adalah pengakuan akan ketundukan dan kecintaan kepada Rasulullah. Dengan mengucapkannya, seorang Muslim menegaskan bahwa setiap langkahnya di tanah Madinah berada di bawah ajaran dan teladan Nabi tercinta.
Selain itu, dianjurkan pula membaca firman Allah SWT dalam Surah Al-Isra ayat 80 sebagai doa untuk memasuki kota ini dengan niat yang tulus dan langkah yang diberkahi:
وَقُلْ رَّبِّ اَدْخِلْنِيْ مُدْخَلَ صِدْقٍ وَّاَخْرِجْنِيْ مُخْرَجَ صِدْقٍ وَّاجْعَلْ لِّيْ مِنْ لَّدُنْكَ سُلْطٰنًا نَّصِيْرًا
“Ya Tuhanku, masukkanlah aku dengan cara yang benar, keluarkanlah aku dengan cara yang benar, dan berikanlah kepadaku dari sisi-Mu kekuasaan yang dapat menolongku.”
(QS. Al-Isra: 80).
Doa ini menjadi bentuk permohonan agar perjalanan ziarah berlangsung dengan kejujuran, keselamatan, dan bimbingan dari Allah SWT.
Ketika pandangan pertama menatap dinding masjid Nabawi atau pepohonan Madinah yang meneduhkan, dianjurkan pula berdoa:
اَللَّهُمَّ هَذَا حَرَمُ رَسُولِكَ، فَاجْعَلْهُ وَقَايَةً لِي مِنَ النَّارِ وَأَمَانًا مِنَ الْعَذَابِ وَسُوءِ الْحِسَابِ
Allâhumma hâdzâ haramu rasûlika, faj‘alhu li wiqâyatan minan nâri, wa amanan minal ‘adzâbi wa sû’il hisâb
Artinya: “Ya Allah, ini adalah tempat suci Rasul-Mu. Jadikanlah ia pelindungku dari api neraka, dan pengaman dari siksa dan hisab yang buruk.”
Doa ini adalah ungkapan harapan agar setiap langkah di tanah suci Madinah membawa perlindungan dan keberkahan bagi para jemaah haji dan umrah.
Madinah bukan hanya kota sejarah, tetapi juga tempat di mana setiap hati yang datang merasakan kedamaian. Di sana, cinta kepada Rasulullah SAW tumbuh lebih dalam, dan kerinduan untuk meneladani akhlaknya semakin kuat.
Maka, bagi setiap jamaah haji dan umrah, memasuki Madinah adalah kesempatan berharga untuk memperbarui cinta dan iman di hadapan jejak kehidupan Rasul tercinta.***













