PROBOLINGGO,- Ribuan warga Pulau Gili Ketapang, Kecamatan Sumberasih, Kabupaten Probolinggo, memadati pusat perbelanjaan di Kota Probolinggo, Selasa (17/3/2026).
Kedatangan mereka berlangsung serentak dalam tradisi Pettolekoran (Pettolekoran berarti angka 27) yang rutin digelar setiap Ramadan, tepatnya pada hari ke-27 bulan puasa.
Sejak pagi hari, arus warga sudah terlihat memenuhi sejumlah titik pusat belanja. Suasana semakin ramai hingga sore, bahkan diperkirakan berlanjut hingga malam.
Tradisi Pettolekoran menjadi momen penting bagi warga Gili Ketapang. Selain berbelanja kebutuhan Lebaran, kegiatan ini juga menjadi ajang berkumpul bersama keluarga.
Buk Suri, salah satu warga Gili Ketapang, mengaku datang bersama anak dan keluarganya untuk berbelanja kebutuhan Hari Raya.
“Ini mau belanja di pusat perbelanjaan di Kota Probolinggo, baju Lebaran, kue Lebaran dan lain-lain,” ujarnya.
Ia menyebut Pettolekoran bukan sekadar tradisi belanja. Lebih dari itu, ada nilai kebersamaan yang selalu dinantikan setiap tahunnya.
“Pettolekoran ini hari kemenangan orang Gili. Kesini bareng sama anak, ponakan dan keluarga lainnya,” tambahnya.
Sementara itu, Koordinator penyeberangan kapal warga Gili Ketapang, Suryono, mengatakan jumlah warga yang datang cukup besar dan terjadi secara bertahap.
“Pettolekoran ini memang sudah jadi tradisi tahunan. Mayoritas warga Gili yang meramaikan, jumlahnya sekitar dua ribu orang yang ke pusat perbelanjaan,” jelasnya.
Ia menyebut mobilitas warga sudah dimulai sejak pagi hari melalui jalur penyeberangan laut menuju Kota Probolinggo.
“Sejak pagi kapal sudah mengangkut penumpang. Warga datang bergelombang dari pagi sampai siang, bahkan ada yang lanjut sampai malam,” katanya.
Dibanding tahun sebelumnya, aktivitas tahun ini terlihat lebih teratur meski jumlah pengunjung tetap tinggi.
“Kalau tahun lalu sampai sekitar pukul 23.00 hingga 23.30 WIB masih ramai. Sekarang juga berpotensi sama, karena antusias warga sangat tinggi,” tambahnya.
Suryono juga memastikan pihaknya mengatur jadwal penyeberangan agar tetap aman dan lancar.
“Kami atur keberangkatan kapal supaya tidak terjadi penumpukan. Yang penting warga bisa menyeberang dengan aman dan nyaman,” pungkasnya.
Tradisi Pettolekoran pun terus menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Gili Ketapang, sebagai simbol kebersamaan menjelang Hari Raya Idulfitri.***














