banner 728x90
Daerah

Bazar Ramadan GOR A. Yani Jadi Sorotan, Sewa Lapak Dinilai Terlalu Tinggi

×

Bazar Ramadan GOR A. Yani Jadi Sorotan, Sewa Lapak Dinilai Terlalu Tinggi

Sebarkan artikel ini
Bazar Ramadan yang di GOR A. Yani, Jalan dr. Soetomo, Kelurahan Tisnonegaran./ Foto: bolinggo.co

PROBOLINGGO,- Bazar Ramadan yang digelar di GOR A. Yani, Jalan dr. Soetomo, Kelurahan Tisnonegaran, memicu perbincangan di kalangan Pedagang Kaki Lima (PKL) Kota Probolinggo. Tarif sewa lapak dinilai cukup tinggi.

Informasi yang beredar menyebutkan biaya sewa satu lapak mencapai Rp1 juta untuk 22 hari pelaksanaan. Fasilitas yang disediakan berupa tenda ukuran 3×3 meter dan sambungan listrik.

Sejumlah pedagang mengaku keberatan. Mereka menilai besaran tarif perlu disesuaikan dengan kondisi ekonomi serta potensi cuaca ekstrem yang bisa memengaruhi jumlah pembeli.

Ketua Paguyuban PKL Kota Probolinggo, Munadi, menegaskan pihaknya tidak terlibat dalam kegiatan tersebut. Ia meminta awak media menghubungi langsung penyelenggara.

“Terkait bazar Ramadan di GOR A. Yani, silakan langsung ke pihak EO,” ujarnya, Senin (23/2/2025).

Munadi juga memastikan paguyuban tidak ikut dalam penarikan biaya. “Mboten,” katanya singkat.

Ia menambahkan, pada tahun sebelumnya bazar Ramadan difasilitasi tanpa biaya pendaftaran oleh DKUPP. Meski demikian, hasilnya disebut belum maksimal, termasuk saat digelar di alun-alun kota.

Baca Juga:  Pemkot dan Aparat Gelar Patroli Gabungan untuk Pengamanan Natal 2024 di Probolinggo

Sementara itu, upaya konfirmasi kepada Elok, pihak Event Organizer (EO) pada Selasa Malam (24/2/2026) belum membuahkan penjelasan yang substansial. Wartawan bolinggo.co hanya menerima balasan singkat.

“Tadi sudah, monggo tanya ke (disertai pengalihan ke kontak lain,” tulisnya, tanpa keterangan lebih lanjut mengenai dasar penetapan tarif sewa. Hingga berita ini diturunkan, belum ada klarifikasi resmi dari pihak penyelenggara.

Perbincangan soal biaya sewa juga ramai di media sosial. Sejumlah warganet menilai tarif tersebut wajar jika dikelola pihak ketiga, sementara lainnya berharap ada evaluasi.

PKL pun berharap kebijakan tarif dapat dikaji ulang. Mereka ingin penyelenggaraan bazar tetap berjalan, tanpa membebani pelaku usaha kecil selama Ramadan.***