BOLINGGODOTCO,- Ibadah haji merupan, sebuah perjalanan spiritual yang tidak hanya menguji fisik, akan tetapi juga mental dan hati seorang Muslim untuk melaksanakan ibadah di tanah suci Makkah dan Madinah.
Setiap tahun, jutaan jamaah dari berbagai penjuru dunia berkumpul di tanah suci, meninggalkan keluarga, pekerjaan demi memenuhi panggilan Allah. Dalam perjalanan, kesabaran menjadi kunci utama untuk meraih kemabruran.
Perjalanan haji tidaklah mudah. Padatnya jamaah sering kali menimbulkan desak-desakan, antrian panjang, dan keterbatasan ruang gerak. Belum lagi faktor cuaca panas terik di siang hari atau dingin menusuk di malam hari.
Semua itu adalah ujian yang memerlukan kesabaran. Seseorang yang mampu menahan diri dari amarah, keluh kesah, dan keputusasaan akan merasakan ketenangan batin dan keberkahan dalam setiap langkah hajinya.
Rasulullah telah mengingatkan bahwa kesabaran adalah inti dari haji yang mabrur. Beliau bersabda:
مَنْ حَجَّ لِلَّهِ فَلَمْ يَرْفُثْ وَلَمْ يَفْسُقْ، رَجَعَ كَيَوْمِ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ
Artinya:
“Barangsiapa yang berhaji kemudian tidak berkata-kata kotor dan tidak berbuat kefasikan, maka ia pulang (dari haji) seperti hari ia dilahirkan oleh ibunya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini menegaskan bahwa menjaga lisan, sikap, dan kesabaran adalah syarat utama agar haji menjadi ibadah yang bersih dan sempurna. Dengan kata lain, kesabaran bukan hanya pilihan, melainkan sebuah kewajiban dalam perjalanan haji.
Selain kesabaran dalam menghadapi kerumunan dan cuaca, jamaah juga diuji dengan kondisi fisik. Rasa lelah berjalan jauh, rasa sakit akibat cuaca ekstrem, serta rasa lapar atau haus bisa membuat seseorang mudah mengeluh.
Namun, justru dalam momen inilah seorang Muslim belajar arti pengorbanan dan keteguhan hati. Kesabaran menghadapi rasa sakit dan kesulitan adalah bentuk penghambaan yang tulus kepada Allah.
Bahkan, Al-Qur’an menegaskan bahwa kesabaran adalah salah satu ciri orang yang dicintai Allah. Dalam surah Al-Baqarah ayat 153, Allah berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ ۚ إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ
Artinya:
“Wahai orang-orang yang beriman! Mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan shalat. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.”
Ayat ini menjadi penguat bagi para jamaah haji bahwa setiap kesulitan yang mereka hadapi bukanlah sia-sia, melainkan jalan untuk meraih cinta dan pertolongan Allah.
Maka, haji bukan sekadar ritual, melainkan madrasah kehidupan. Di sana seorang Muslim belajar menahan diri, melatih jiwa, serta menumbuhkan empati terhadap sesama.
Pada akhirnya, kesabaran dalam berhaji adalah teladan yang dapat dibawa pulang ke tanah air. Haji mabrur bukan hanya dilihat dari pakaian ihramnya, melainkan dari akhlak yang semakin lembut, hati yang sabar, serta amal yang semakin ikhlas setelah kembali ke tengah masyarakat.***













