PROBOLINGGO,- Muhammad Dava Nuri Saputra (20), pemuda asal Kota Probolinggo, yang sudah ditinggalkan ayahnya karena meninggal harus menahan nyeri akibat tumor besar di punggungnya. Kondisi itu membuatnya sulit duduk dan bergerak leluasa.
Dava bersama ibunya Nur, kini menumpang di rumah kerabat di Jalan Kyai Mugi RT 09 RW 09, Kelurahan Mangunharjo, Kecamatan Mayangan. Keterbatasan biaya membuat pengobatan terasa berat.
Nur menuturkan, awalnya benjolan itu kecil dan sempat diperiksakan ke dokter. Saat itu disebut tidak berbahaya, namun ukurannya terus membesar.
“Kemudian kami ke puskesmas. Dari sana dirujuk ke rumah sakit umum kota, setelah rontgen dan scan katanya ada tulang yang hancur,” ujar Nur, saat ditemui pada Jumat (13/2/2026).
Setelah pemeriksaan lanjutan, Dava dirujuk ke rumah sakit di Surabaya. Sejak Juni 2025, ia rutin menjalani kontrol dan bulan ini dijadwalkan menjalani kemoterapi.
Nur menyebut sejumlah bantuan sudah diterima dari Dinas Sosial, NU, kelurahan dan kecamatan. Meski begitu, kebutuhan biaya pengobatan masih cukup besar.
Dava mengaku tumor itu pertama kali muncul pada Februari 2025. Ia tidak menyadarinya hingga sang ibu memberi tahu.
“Waktu itu saya habis bangun tidur. Ibu yang bilang ada benjolan di belakang badan,” katanya.
Saat tumor mulai terlihat, Dava masih aktif sekolah. Ia memilih diam dan tidak pernah menceritakan kondisinya kepada teman maupun guru.
Kini, harapannya sederhana Dava. Ia ingin sembuh dan kembali menjalani hidup seperti pemuda seusianya.***














