PROBOLINGGO,- Menghadapi awal tahun yang diwarnai cuaca ekstrem, Pemkab Probolinggo memperkuat kewaspadaan terhadap potensi bencana hidrometeorologi melalui rapat koordinasi penanggulangan bencana.
Langkah ini dilakukan menyusul rilis resmi BMKG yang memprediksi potensi hujan sedang hingga lebat pada periode Januari hingga Maret 2026.
Kondisi tersebut berisiko memicu banjir, tanah longsor, angin kencang, hingga puting beliung di sejumlah wilayah Jawa Timur, termasuk Kabupaten Probolinggo.
Bupati Probolinggo dr. Mohammad Haris menegaskan, pemerintah tidak boleh bersikap reaktif dalam menghadapi bencana. Kesiapsiagaan sejak dini dinilai menjadi kunci perlindungan masyarakat.
“Kita tidak boleh menunggu bencana datang baru bergerak. Pemerintah harus hadir lebih awal, lebih cepat dan lebih sigap agar masyarakat merasa terlindungi,” tegasnya, Selasa (20/1/2026).
Dalam rapat tersebut, Pemkab Probolinggo menekankan penerapan konsep BPBD GERCEP SAE, yakni Gerak Cepat, Terpadu, Berbasis Kecamatan dan Desa. Pola ini menjadi dasar penanganan bencana agar respons di lapangan lebih efektif.
Wakil Bupati Probolinggo Fahmi AHZ menyampaikan, evaluasi menjadi bagian penting dalam penguatan sistem penanggulangan bencana. Menurutnya, kecepatan respons dan ketepatan asesmen harus terus ditingkatkan.
“Evaluasi ini penting agar respons lebih cepat, asesmen lebih akurat dan langkah mitigasi bisa dilakukan sejak dini,” ujarnya.
Fahmi juga menekankan pentingnya menjadikan bencana yang terjadi sepanjang Januari 2026 sebagai bahan pembelajaran. Dengan evaluasi menyeluruh, penanganan ke depan diharapkan lebih terukur.
“Berbagai kejadian harus menjadi pembelajaran agar penanganan ke depan lebih efektif,” tambahnya.
Berdasarkan data BPBD Kabupaten Probolinggo, sejumlah bencana telah terjadi di berbagai wilayah. Di antaranya tanah longsor di Kecamatan Krucil serta banjir di Kecamatan Sumberasih dan Tongas.
Bencana juga melanda wilayah barat dan timur Kabupaten Probolinggo. Cuaca ekstrem bahkan menyebabkan ambruknya ruang kelas SDN Sumberkare 1 di Kecamatan Wonomerto.
Melalui penguatan koordinasi dan kesiapsiagaan, Pemkab Probolinggo berharap potensi dampak bencana dapat ditekan, sekaligus memastikan keselamatan masyarakat tetap menjadi prioritas utama.***















