BOLINGGODOTCO,- Tradisi lebaran ketupat masih terus dilestarikan masyarakat pulau Jawa. Perayaan ini menjadi simbol kebersamaan usai Idul Fitri.
Di sejumlah daerah, tradisi ini dikenal sebagai Syawalan. Masyarakat biasanya merayakannya beberapa hari setelah hari raya.
Sejarah ketupat tidak lepas dari peran Sunan Kalijaga. Ia diyakini sebagai tokoh yang pertama kali memperkenalkan ketupat sebagai bagian dari dakwah Islam di Jawa.
Budayawan Zastrouw Al-Ngatawi menyebut tradisi kupatan berkembang dari budaya slametan. Tradisi lokal ini kemudian dipadukan dengan nilai-nilai Islam.
Ketupat menjadi sarana mengajarkan makna syukur, sedekah, dan silaturahmi. Nilai tersebut diperkuat dalam momen lebaran.
Secara bahasa, ketupat atau kupat berasal dari istilah Jawa “ngaku lepat”. Artinya mengakui kesalahan.
Makna ini sejalan dengan tradisi saling memaafkan. Ketupat menjadi simbol permohonan maaf antar sesama.
Selain itu, ketupat juga memiliki filosofi mendalam. Anyaman janur mencerminkan kompleksitas kesalahan manusia.
Saat dibelah, warna putih ketupat melambangkan kesucian. Ini menjadi simbol hati yang kembali bersih setelah saling memaafkan.
Bentuk segi empat ketupat juga memiliki arti khusus. Hal ini berkaitan dengan prinsip “kiblat papat lima pancer” dalam budaya Jawa.
Beras sebagai isi ketupat melambangkan kemakmuran. Harapannya, kehidupan setelah lebaran menjadi lebih baik.
Dalam tradisi lama, ketupat juga dipercaya sebagai penolak bala. Biasanya digantung di pintu rumah bersama pisang.
Ketupat umumnya disajikan dengan opor ayam. Hidangan ini memiliki makna filosofis tersendiri.
Santan dalam opor disebut “santen” dalam bahasa Jawa. Kata ini dimaknai sebagai “pangapunten” atau permohonan maaf.
Ungkapan tersebut kerap muncul dalam pantun lebaran. Tradisi ini memperkuat pesan saling memaafkan di hari raya.
Melalui tradisi kupatan, masyarakat tidak hanya merayakan lebaran. Namun juga menjaga nilai budaya dan spiritual yang telah diwariskan turun-temurun.***














