PROBOLINGGO,- Pemkot Probolinggo kembali menguatkan komitmennya di sektor pendidikan melalui Gerakan Sinergi Aksi Holistik Berbasis Area Terpadu Pengentasan Anak Tidak Sekolah (SAHABAT ATS) 2026.
Melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Probolinggo, gerakan ini dirancang berbasis kelurahan. Pendekatan tersebut dinilai efektif karena langsung menyentuh lingkungan tempat tinggal anak.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, Siti Romlah, menyebut SAHABAT ATS sebagai gerakan kolaboratif lintas sektor. Pelaksanaannya melibatkan perangkat daerah, sekolah, hingga masyarakat.
“Upaya ini sistematis dan berkelanjutan. Dengan berbasis kelurahan, jangkauan penanganan menjadi lebih luas,” ujarnya singkat.
Wali Kota Probolinggo, dr. Aminuddin, menegaskan penanganan ATS berkaitan erat dengan target wajib belajar 13 tahun. Anak-anak yang putus sekolah harus dikembalikan ke jalur pendidikan formal maupun nonformal.
Ia menilai peningkatan Angka Partisipasi Sekolah (APS), Rata-rata Lama Sekolah (RLS), dan Harapan Lama Sekolah (HLS) akan berdampak langsung pada Indeks Pembangunan Manusia (IPM) daerah. Karena itu, sinkronisasi data dan aksi lapangan menjadi kunci.
Pemkot juga memperluas akses melalui program Kejar Paket A, B, dan C. Dukungan beasiswa hingga perguruan tinggi turut disiapkan untuk membuka peluang masa depan anak-anak.
Menurut Aminuddin, langkah awal adalah memetakan penyebab anak tidak sekolah. Faktor ekonomi, pernikahan dini, disabilitas, hingga persoalan sosial lainnya harus diidentifikasi lebih dulu.
“Solusi harus cepat dan tepat sesuai kondisi masing-masing anak,” tegasnya.
Melalui SAHABAT ATS 2026, Pemkot Probolinggo berharap tidak ada lagi anak yang tertinggal dari pendidikan. Program ini menjadi bagian dari upaya membangun kualitas sumber daya manusia secara berkelanjutan.***














