banner 728x90
DaerahRagam

Pendidikan yang Nyaris Tak Terliput: Ngaji Langgar di Sudut Desa

×

Pendidikan yang Nyaris Tak Terliput: Ngaji Langgar di Sudut Desa

Sebarkan artikel ini
Seorang guru ngaji duduk bersila di depan papan tulis hitam, dikelilingi anak-anak dengan buku kecil di tangan./ Foto: Mohammad Taofik

PROBOLINGGO,- Di banyak sudut desa, khususnya di wilayah Probolinggo, masih mudah dijumpai pemandangan sederhana yang kerap luput dari perhatian publik. Seorang guru duduk bersila di depan papan tulis hitam, dikelilingi anak-anak dengan buku kecil di tangan.

Mereka belajar mengenal huruf hijaiyah, mengeja, hingga perlahan membaca Al-Qur’an. Praktik pendidikan seperti ini oleh masyarakat setempat dikenal sebagai ngaji langgar.

Ngaji langgar bukan sekadar kegiatan belajar membaca Al-Qur’an. Ia merupakan ruang awal pendidikan keagamaan yang membentuk kebiasaan, sikap, dan karakter anak sejak usia dini.

Di tempat inilah anak-anak belajar disiplin waktu, menghormati guru, bersabar, serta mengenal nilai-nilai moral yang kelak melekat dalam kehidupan sehari-hari.

Proses ini umumnya berlangsung selepas Magrib, meski di beberapa tempat juga dilakukan pada sore hari dan dikenal dengan sebutan diniyah atau madrasah diniyah.

Ironisnya, praktik pendidikan semacam ini jarang mendapat perhatian dalam liputan media. Padahal, musala-musala kecil dan langgar di desa-desa menjadi fondasi awal pendidikan sebelum anak-anak melangkah ke jenjang yang lebih formal, seperti pondok pesantren, SMP, SMA, atau lembaga pendidikan lainnya.

Pendidikan dasar yang berlangsung di ruang-ruang kecil inilah yang justru memegang peran penting dalam membangun karakter dan spiritualitas anak.

Tantangan terbesar saat ini datang dari perubahan zaman yang bergerak begitu cepat. Anak-anak tumbuh di tengah arus teknologi dan informasi yang nyaris tanpa jeda.

Gawai dan media sosial telah menjadi bagian dari keseharian mereka sejak usia dini. Jika tidak diimbangi dengan baik, pendidikan berbasis nilai seperti ngaji langgar berisiko terpinggirkan bukan karena tidak relevan, melainkan karena kurang mendapatkan perhatian dan penguatan.

Baca Juga:  Tinjau Latihan Balap Motor, Nurkholis Beri Motivasi Atlet

Pada titik ini, peran support system menjadi sangat krusial. Guru ngaji memiliki dedikasi yang besar, namun mereka tidak dapat bekerja sendirian. Lingkungan masyarakat, dan terutama keluarga, memegang peranan penting dalam menjaga keberlanjutan proses belajar anak.

Masih sering dijumpai pola pikir bahwa tanggung jawab pendidikan telah selesai ketika anak dititipkan untuk mengaji. Setelah itu, tidak ada pengawasan atau pengulangan pelajaran di rumah.

Sebagian keluarga memang masih menjaga tradisi mendampingi anak mengaji di rumah. Namun, tidak sedikit pula yang membiarkan anak larut dalam penggunaan gawai tanpa kontrol.

Kondisi ini membuat nilai-nilai yang diajarkan di langgar kerap tidak mendapatkan penguatan lanjutan. Padahal, keluarga merupakan ruang pendidikan pertama dan paling menentukan dalam pembentukan karakter anak.

Tulisan ini dihadirkan sebagai refleksi di tengah hiruk-pikuk isu besar yang terus mendominasi ruang publik, mulai dari politik, konflik agraria, hingga persoalan global. Di balik semua itu, terdapat proses pendidikan lokal yang berjalan sunyi namun konsisten.

Pendidikan karakter dan spiritualitas sejak dini menjadi salah satu penopang penting bagi cita-cita Indonesia Emas 2045, bukan hanya dari sisi kecerdasan, tetapi juga dari sisi moral dan kepribadian.

Ngaji langgar adalah praktik pendidikan yang mungkin sederhana dan nyaris tak terliput, namun memiliki dampak jangka panjang. Keberlangsungannya perlu dijaga melalui kerja bersama antara guru, keluarga, dan masyarakat.

Di tengah laju teknologi yang tak terelakkan, pendidikan lokal berbasis nilai seperti ini bukan untuk ditinggalkan, melainkan untuk diperkuat dan diselaraskan agar tetap relevan dengan perkembangan zaman.***

Penulis: Mohammad Taofik (Mahasiswa UIN Khas Jember)