banner 728x90
Daerah

Pemkot Probolinggo Terapkan Digitalisasi Posyandu dan Jam Tangan Kesehatan

×

Pemkot Probolinggo Terapkan Digitalisasi Posyandu dan Jam Tangan Kesehatan

Sebarkan artikel ini
Pemkot Probolinggo luncurkan program Digitalisasi Posyandu dan Jam Tangan Kesehatan Terintegrasi./ Foto: Kominfo

PROBOLINGGO,- Pemkot Probolinggo luncurkan program Digitalisasi Posyandu dan Jam Tangan Kesehatan Terintegrasi Monitoring dan Evaluasi Kesehatan Keluarga dan Gizi Masyarakat (KGM) Tahun 2026. Kegiatan berlangsung di Kantor Wali Kota Probolinggo, Kamis (5/2/2026).

Program ini menjadi upaya memperkuat layanan kesehatan berbasis data. Fokus utamanya adalah peningkatan pemantauan kesehatan ibu dan anak.

Kepala Dinas Kesehatan P2KB Kota Probolinggo, dr. Intan Sudarmadi, menyampaikan bahwa Posyandu saat ini telah berkembang signifikan. Perannya tidak lagi sebatas layanan kesehatan dasar.

“Posyandu awalnya merupakan Upaya Kesehatan Berbasis Masyarakat. Kini berkembang menjadi Posyandu 6 Standar Minimal yang mencakup enam bidang layanan dasar,” ujar dr. Intan.

Ia menjelaskan, layanan Posyandu kini menjangkau seluruh siklus hidup masyarakat. Penguatan tersebut dilakukan melalui Posyandu Integrasi Layanan Primer (ILP).

“Pelayanan Posyandu semakin kompleks. Digitalisasi melalui aplikasi Siskia Mobile memudahkan kader melakukan pendataan dan pelaporan secara real time,” jelasnya.

Menurut dr. Intan, digitalisasi Posyandu memiliki dampak besar terhadap pengambilan kebijakan. Data yang tersaji secara cepat dan akurat membantu pemerintah dalam menekan angka kematian ibu.

“Digitalisasi ini sangat membantu dalam pengambilan keputusan berbasis data serta mendukung penurunan AKI,” katanya.

Baca Juga:  Dua Pos Jaga dan Palang Pintu Baru Perlintasan Sebidang KA di Probolinggo Resmi Beroperasi

Saat ini, Kota Probolinggo memiliki 219 Posyandu yang tersebar di 29 kelurahan. Seluruh Posyandu akan difasilitasi tablet untuk pengelolaan data layanan kesehatan.

Selain itu, Pemkot Probolinggo juga meluncurkan penggunaan jam tangan kesehatan bagi ibu hamil. Alat ini berfungsi untuk pemantauan kondisi kesehatan secara berkelanjutan.

“Jam tangan kesehatan memungkinkan pemantauan ibu hamil, bersalin, nifas hingga balita. Ini langkah efektif untuk menekan angka kematian ibu dan bayi,” tambah dr. Intan.

Wali Kota Probolinggo, dr. Aminuddin, menegaskan pentingnya pembangunan berbasis data. Digitalisasi Posyandu menjadi instrumen strategis dalam pengawasan kesehatan masyarakat.

“Pembangunan harus dimulai dari data yang kuat. Digitalisasi Posyandu ini menjadi alat penting untuk monitoring dan evaluasi kesehatan masyarakat,” tegas Aminuddin.

Ia memastikan seluruh Posyandu difasilitasi tablet. Hal tersebut untuk memperkuat pelaporan dan komunikasi antar layanan kesehatan.

Wali Kota juga menyoroti capaian penurunan angka kematian ibu di Kota Probolinggo. Pada tahun 2025, AKI tercatat 82,37 per 100.000 kelahiran hidup.

“Penurunan ini merupakan hasil kerja keras bersama Dinas Kesehatan, kader Posyandu, dan tenaga kesehatan,” pungkasnya.***