banner 728x90
News

PEGAS Buktikan Hasil, Stunting di Gresik Turun Signifikan dalam 3 Bulan

×

PEGAS Buktikan Hasil, Stunting di Gresik Turun Signifikan dalam 3 Bulan

Sebarkan artikel ini

GRESIK – Kabupaten Gresik mencatat keberhasilan signifikan dalam percepatan penurunan stunting. Melalui Program Pemantauan Gizi Anak Stunting (PEGAS), angka stunting berhasil ditekan hingga 26,79 persen hanya dalam tiga bulan.

Hasil evaluasi juga menunjukkan perbaikan kondisi gizi balita. Sebanyak 64,28 persen peserta mengalami peningkatan status gizi, meski belum sepenuhnya keluar dari kategori stunting.

Selain itu, 8,93 persen balita masih menjalani pendampingan lanjutan. Pendampingan dilakukan oleh Dokter Spesialis Anak (DSA) untuk mencapai status gizi yang optimal.

Program PEGAS dilaksanakan di 18 Puskesmas di Kabupaten Gresik. Pelaksanaan berlangsung bertahap selama periode Agustus hingga Desember 2025.

Sasaran program adalah balita usia 0 hingga 57 bulan. Balita yang mengikuti program telah melalui proses skrining dan tidak memiliki kelainan bawaan maupun infeksi kronis.

Dari total 60 balita yang terdaftar, sebanyak 56 balita mengikuti program hingga tuntas. Intervensi dilakukan secara terukur dan terpantau.

Intervensi utama dilakukan melalui pemberian Pangan untuk Keperluan Medis Khusus (PKMK). Produk ini diberikan secara gratis kepada peserta program.

PKMK yang digunakan telah memenuhi standar BPOM. Produk tersebut terbukti mampu meningkatkan berat dan tinggi badan anak malnutrisi setelah tiga bulan pemakaian.

Baca Juga:  Pegiat Pertanian dan Pariwisata Karanggupito Dapat Penguatan 4 Pilar Kebangsaan

Pemantauan gizi dilakukan secara rutin setiap dua minggu. Pendampingan klinis juga dilakukan melalui metode telemedicine oleh tim Dokter Spesialis Anak.

Anggota tim DSA, dr. Wiweka Merbawani, Sp.A, menekankan pentingnya edukasi kepada orang tua. Menurutnya, penguatan Komunikasi, Informasi, dan Edukasi (KIE) menjadi kunci pencegahan stunting sejak dini.

“Program PEGAS terbukti memberikan dampak positif terhadap perbaikan status gizi balita dan perlu dilanjutkan,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Rabu (28/1/2026).

Keberhasilan program juga terlihat dari efektivitas telemedicine. Sebanyak 91,07 persen balita peserta menunjukkan perbaikan status gizi.

Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinkes Gresik, dr. Anik Luthfiyah, M.Ked., mengapresiasi capaian tersebut. Ia menilai PEGAS menjadi contoh intervensi gizi yang tepat sasaran dan kolaboratif.

Menurut dr. Anik, data PEGAS menjadi dasar penting bagi kebijakan ke depan. Pada 2026, fokus penanganan stunting di Gresik akan diperkuat melalui skrining dini.

Capaian ini menjadi momentum penting menjelang Hari Gizi Nasional. Keberhasilan Gresik menunjukkan bahwa penanganan stunting membutuhkan program nyata dan berkelanjutan.

Ia berharap model PEGAS dapat diterapkan di daerah lain. Kolaborasi lintas sektor dinilai menjadi kunci percepatan penurunan stunting di Indonesia.***