JAKARTA,- Eskalasi konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran memicu lonjakan harga minyak mentah dunia. Pemerintah pun mewanti-wanti potensi dampaknya terhadap harga BBM di dalam negeri.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menyebut Indonesia sebagai negara net importir minyak akan terdampak langsung oleh gejolak global.
“Sebagai net importir, tentu pergerakan harga minyak dunia akan berpengaruh ke dalam negeri,” ujarnya di Jakarta, dikutip Selasa (3/3/2026).
Airlangga menegaskan, pemerintah masih melakukan pemantauan intensif sebelum mengambil langkah lanjutan. “Otomatis ada tekanan kenaikan seperti pengalaman sebelumnya. Tetapi kita lihat dulu perkembangan suplai global,” katanya.
Ia menambahkan, peningkatan produksi dari Amerika dan negara-negara OPEC menjadi faktor penahan lonjakan lebih lanjut. “Supply dari Amerika meningkat dan OPEC juga menambah kapasitas. Jadi kita monitor dulu,” tegasnya.
Berdasarkan data Refinitiv, harga minyak Brent pada Senin (2/3/2026) pukul 10.00 WIB tercatat US$76,43 per barel. Sementara West Texas Intermediate (WTI) berada di level US$70,05 per barel, naik dibandingkan posisi akhir pekan lalu.
Lonjakan harga dipicu ketegangan di kawasan Teluk, termasuk keputusan Iran menutup Selat Hormuz. Jalur tersebut merupakan lintasan vital sekitar 20 persen pasokan minyak global.
Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (CELIOS), Bhima Yudhistira, memproyeksikan harga minyak berpotensi melonjak hingga US$100–US$120 per barel.
“Gangguan di Selat Hormuz akan memukul 20 persen pasokan minyak dunia. Risiko keamanan dan asuransi kapal juga meningkat,” ujarnya.
Bhima mengingatkan, setiap kenaikan US$1 per barel di atas asumsi APBN 2026 dapat menambah beban negara sekitar Rp10,3 triliun. “Ada beban ganda ke APBN, mulai subsidi BBM, kompensasi ke Pertamina, hingga subsidi listrik,” jelasnya.
Ia juga menyoroti potensi pelemahan rupiah akibat capital outflow. “Imported inflation dari energi dan pangan bisa menekan daya beli. Masyarakat jelas tidak siap jika harga BBM dan pangan melonjak bersamaan,” katanya.
Sementara itu, Direktur Utama PT Petrogas Jatim Utama Cendana (PJUC), Hadi Ismoyo, menilai konflik kali ini lebih serius dibanding ketegangan sebelumnya.
Menurutnya, penutupan Selat Hormuz berpotensi mengganggu pasokan minyak dan LNG secara signifikan.
Ia juga menyinggung wafatnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, sebagai pemicu eskalasi lanjutan. “Ini bukan hanya persoalan politik, tetapi juga sentimen kawasan yang bisa memperpanjang konflik,” ujarnya.
Pemerintah memastikan akan menjaga stabilitas energi dan fiskal nasional. Evaluasi berkala terus dilakukan untuk merespons dinamika global yang masih bergerak cepat.***














