banner 728x90
Islami

Kisah Tukang Sampah dan Penjual Sate Berangkat ke Baitullah

×

Kisah Tukang Sampah dan Penjual Sate Berangkat ke Baitullah

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi penjual sate naik haji./ Foto: Ai bolinggo.co

BOLINGGODOTCO,- Tanah Suci selalu menjadi impian bagi setiap muslim. Namun, jalan menuju ke sana seringkali penuh liku. Ada penantian panjang, tabungan yang dikumpulkan setetes demi setetes, hingga perjuangan hidup yang tak sederhana.

Melansir dari laman Kemenag RI. Pada bulan Mei 2025 lalu, dua sosok jemaah haji Indonesia mengajarkan bahwa mimpi bisa diwujudkan, meski dengan kesabaran puluhan tahun.

Legiman, Tukang Sampah yang Tak Pernah Menyerah

Setiap pagi, Legiman (66) sudah siap dengan gerobaknya. Sejak 1976, ia mengais rezeki dari sampah warga di Dusun Glagahombo, Ambarawa, Semarang. Hidup sederhana, penghasilan pas-pasan, namun ia punya tekad besar “suatu hari ia ingin menjadi tamu Allah di Tanah Suci”.

Receh demi receh ia sisihkan sejak 1986. Tabungan itu terus bertambah hingga pada 2012 mencapai Rp 55 juta. Dengan dukungan anak-anaknya, Legiman dan istrinya baru mendaftar haji.

Penantian panjang selama 13 tahun tersebut akhirnya berbuah manis. Tahun 2025 tepatnya di bulan Mei Lalu, mereka berdua berangkat haji untuk menunaikan rukun islam yang ke lima.

“Meski pekerjaan saya tukang sampah, Allah tetap kasih jalan. Yang penting sabar dan terus berusaha,” ucapnya dengan mata berbinar.

Baca Juga:  Tak Ada Batas untuk Belajar Al-Qur’an, TPQ Difabel Hadir di Probolinggo

Asma, Penjual Sate yang Menabung Selama 55 Tahun

Berbeda dengan Legiman, kisah inspiratif lainnya datang dari Medan. Asma Tanjung (78) telah berjualan sate sejak 1970. Dari hasil dagang itulah ia membiayai keluarga dan membesarkan lima anaknya.

Namun di balik kepulan asap sate dan hiruk pikuk pasar, Asma menyimpan satu mimpi yang terus ia rawat “menunaikan ibadah haji”. Selama 55 tahun, ia menabung. Seringkali uangnya habis untuk kebutuhan rumah tangga, tapi tekadnya tidak pernah padam.

Hingga akhirnya, tahun 2025 ini, Asma benar-benar terbang ke Tanah Suci bersama Kloter 05 Embarkasi Medan. “Alhamdulillah, setelah puluhan tahun menunggu, Allah beri kesempatan juga,” katanya sambil menahan haru.

Bukti Bahwa Haji Milik Semua Kalangan

Dua kisah ini adalah pengingat bahwa ibadah haji bukan hanya milik mereka yang berlimpah harta. Tukang sampah, penjual sate, atau siapapun bisa sampai ke Baitullah jika Allah berkehendak. Syaratnya hanya satu yaitu sabar, ikhlas, dan tak berhenti berusaha.

Karena sejatinya, setiap langkah menuju Tanah Suci adalah panggilan cinta dari Allah SWT. Dan bagi Legiman maupun Asma, panggilan itu akhirnya datang setelah puluhan tahun penantian.***