banner 728x90
Sejarah

Melawan dengan Segala Keterbatasan: Perjuangan Rakyat Probolinggo Agresi Militer I

×

Melawan dengan Segala Keterbatasan: Perjuangan Rakyat Probolinggo Agresi Militer I

Sebarkan artikel ini
Penulis: Muhammad Taofik, Mahasiswa sejarah di UIN Khas Jember./ Foto: bolinggo.co

PROBOLINGGO,- Setelah Indonesia merdeka pada 17 Agustus 1945, keadaan negara sebenarnya belum benar-benar stabil. Banyak masalah muncul, mulai dari politik, ekonomi, sampai keamanan.

Di tengah kondisi itu, Belanda justru datang kembali ke Indonesia. Mereka ingin menguasai lagi wilayah yang dulu pernah dijajah.

Situasi ini membuat konflik tidak bisa dihindari. Pada 21 Juli 1947, Belanda melancarkan Agresi Militer I. Serangan ini menyasar daerah-daerah penting di Indonesia, termasuk wilayah Jawa Timur.

Probolinggo menjadi salah satu target karena punya nilai ekonomi, terutama dari perkebunan dan pabrik gula.

Pasukan Belanda mulai masuk melalui Pantai Pasir Putih di Situbondo. Dari sana, mereka bergerak ke arah barat menuju Probolinggo.

Dalam waktu yang tidak lama, mereka berhasil memasuki kota. Pada hari yang sama, Probolinggo akhirnya jatuh ke tangan Belanda setelah perlawanan dari pasukan lokal yang terbatas.

Melihat kondisi ini, tentara Indonesia tidak bisa melawan secara langsung. Persenjataan dan kekuatan mereka kalah jauh dari Belanda.

Karena itu, strategi diubah menjadi perang gerilya. Taktik ini dilakukan secara sembunyi-sembunyi, cepat, dan menyerang secara tiba-tiba.

Perang gerilya tidak hanya dilakukan oleh tentara, tapi juga melibatkan rakyat. Masyarakat ikut membantu dengan berbagai cara.

Ada yang menyediakan makanan, menyembunyikan pejuang, hingga memberi informasi tentang pergerakan musuh.

Peran pemuda juga sangat penting dalam perjuangan ini. Mereka menjadi bagian dari kelompok-kelompok gerilya yang aktif melawan Belanda.

Salah satu tokoh yang berperan besar adalah Dr. Moehammad Saleh. Ia adalah seorang dokter yang aktif membantu perjuangan di Probolinggo sekitar tahun 1947-1949. Selain mengobati pejuang yang terluka, ia juga membantu menyediakan obat-obatan.

Rumahnya bahkan sering digunakan sebagai tempat berkumpul para pemuda. Di sana, mereka berdiskusi dan menyusun strategi gerilya.

Selain itu, masyarakat umum juga ikut terlibat dalam berbagai cara. Bahkan ada perempuan yang berani mengambil risiko besar demi membantu perjuangan.

Meskipun kota Probolinggo dikuasai Belanda, perlawanan tidak berhenti. Di daerah-daerah pinggiran, perjuangan tetap berjalan dengan taktik gerilya.

Perjuangan ini menjadi bagian penting dari usaha mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Rakyat Probolinggo menjadi bukti dengan kebersamaan dan semangat, mampu melawan kekuatan yang lebih besar.***

*) Penulis: Muhammad Taofik adalah Mahasiswa sejarah di UIN Kiai Haji Achmad Siddiq (Khas) Jember

Ia juga merupakan warga Probolinggo.