BOLINGGODOTCO,- Bulan Ramadan selalu identik dengan suasana religius, kebersamaan, dan peningkatan ibadah. Masjid lebih ramai, kegiatan sosial meningkat, dan waktu sahur hingga berbuka terasa lebih hidup dari biasanya.
Namun di balik suasana tersebut, muncul fenomena yang kerap berulang setiap tahun. Kenakalan remaja justru meningkat dan menimbulkan keresahan di tengah masyarakat.
Ironisnya, bulan yang seharusnya menjadi ruang pembinaan diri malah dimanfaatkan sebagian anak muda untuk mencari sensasi. Aparat keamanan dan warga pun harus bekerja ekstra menjaga ketertiban lingkungan.
1. Perang Sarung
Tawuran remaja kembali marak saat Ramadan. Modusnya sering dibungkus dengan istilah “perang sarung” atau permainan petasan menjelang sahur maupun usai tarawih.
Awalnya terlihat seperti candaan, namun berujung bentrokan serius. Tidak sedikit pelaku membawa batu dan benda keras lain yang berpotensi melukai.
2. Patrol Sahur
Tradisi membangunkan sahur menggunakan kentongan atau alat musik sederhana sejatinya merupakan budaya positif. Suara tabuhan keliling kampung menjadi ciri khas Ramadan yang penuh kebersamaan.
Namun di sejumlah kasus, kegiatan ini berubah arah. Sebagian kelompok remaja menjadikannya ajang konvoi, bahkan mencari kelompok lain untuk diprovokasi. Tidak jarang mereka membawa batu dan petasan yang berpotensi memicu tawuran.
3. Balapan Liar
Balapan liar menjadi gangguan rutin selama Ramadan. Aksi ini biasanya terjadi saat ngabuburit, tengah malam, atau selepas sahur.
Selain memecah ketenangan, balapan liar meningkatkan risiko kecelakaan. Keselamatan pelaku dan pengguna jalan lain ikut terancam.
4. Begadang
Kebiasaan begadang juga meningkat selama bulan puasa. Waktu malam dihabiskan untuk bermain gim atau nongkrong tanpa arah jelas.
Akibatnya, siang hari diisi dengan tidur berkepanjangan. Produktivitas menurun dan makna Ramadan menjadi berkurang.
5. Ucapan Kotor
Puasa bukan hanya menahan lapar dan haus. Namun sebagian remaja masih terjebak dalam ucapan kasar, ghibah, kotor hingga menyebarkan kabar yang belum tentu benar.
Perilaku ini mengurangi nilai ibadah yang dijalankan.
6. Pemborosan
Fenomena “lapar mata” juga kerap terjadi saat berbuka. Makanan dibeli berlebihan tanpa perhitungan.
Tak jarang akhirnya terbuang sia-sia, bertentangan dengan nilai kesederhanaan yang diajarkan Ramadan.
Situasi ini menegaskan pentingnya peran orang tua, tokoh masyarakat, dan aparat setempat. Ramadan seharusnya tetap menjadi ruang pembentukan karakter, bukan arena pelampiasan emosi.***














